You are here
Home > Pengetahuan > 693 Km – Jejak Gerilya Sudirman

693 Km – Jejak Gerilya Sudirman

[No.352]

Judul              : 693 Km – Jejak Gerilya Sudirman

Penulis          : Ayi Jufridar

Penerbit         : Noura Books

Cetakan         : I, Januari 2015

Tebal              : 312 hlm

ISBN               : 978-602-1306-07-9

Dalam sebuah kisah novel ini penulis gambarkan ketika itu bagaimana beratnya perjalanan gerilya Sudirman bersama pasukannya. Salah satu bagian dari kisah perjalanan gerilya Sudirman yang selalu melekat dalam benak tentang kisah perjalanan yang hinggga kini bagaimana Sudirman yang dalam keadaan sakit harus ditandu untuk melanjutkan perjalanan heroiknya. Walaupun hanya duduk ditandu namun hal itu tetaplah merupakan hal yang sulit dan melelahkan baik bagi Sudirman maupun penandunya yang selalu setia merupakan para sukarelawan, penduduk sipil dari desa-desa yang dilalui Sudirman.

Buku ini adalah novelisasi jejak sejarah Panglima Besar Jenderal Sudirman ketika ia bersama pasukannya bergerilya sepanjang 693 km selama 7 bulan untuk menyerang pos-pos pertahanan Belanda. Setting Novel ini dimulai di lapangan Andir – Bandung  ketika Jenderal Spoor yang pada tanggal 18 Desember 1948 memulai operasi yang diberi nama Operasi Burung Gagak dengan target merebut kembali Yogyakarta (Ibu kota Republik Indonesia saat itu), menghancurkan Tentara Nasional Indonesia yang tersebar di Jawa Tengah hingga Jawa Timur hanya dalam waktu singkat.

Menghadapi situasi yang demikian Bung Karno dan bung Hatta ketika itu lebih memilih jalur diplomasi, akan tetapi Sudirman tetap memilih untuk berjuang mengangkat senjata dengan cara gerilya walau saat itu kesehataannya belum pulih benar. Masa-masa gerilya Sudriman berserta pasukannya inilah yang menjadi inti kisah dari novel ini. Dengan penuturan yang mudah dibaca dan mengalir penulis melukiskan suka duka, semangat, dan pergolakan batin Jenderal Sudirman saat bergerilya bersama pasukannya yang setia. Perjuangan yang secara fisik dan emosi begitu melelahkan. Sementara ia bergerilya untuk menyerang pos-pos pertahanan Belanda, Jenderal Sudirman dan pasukannya juga harus terus menghindar dari kejaran pasukan Belanda yang terus menerus memburunya.

Berbagai kisah menarik lainnya dan seru terungkap dalam novel ini seperti bagaimana Sudirman dan pasukannya harus menghindar dari buruan tentara Belanda dengan cara menyamar atau membuat Sudirman palsu lengkap dengan tandunya untuk mengecoh tentara Belanda. Dikisahkan pula bagaimana dalam perjalanan gerilyanya Sudirman menemukan sebuah kenyataan pilu bahwa rakyat bisa terbeli kesetiaannya kepada negaranya karena madat seperti yang terjadi di daerah Pacitan.

Bergerilya meninggalkan anak-istri tercinta tentu bukanlah sebuah pilihan yang mudah bagi siapapun. Terlebih Soedirman, yang kondisi fisiknya ketika itu tengah menurun akibat penyakit Koch (TBC). Naik turun gunung, keluar masuk hutan harus dirasakan lelaki kelahiran Purbalingga ini di atas “singgasana” berupa tandu kayu, dengan paru yang tinggal satu.

Tidak hanya itu, ketika tandu sulit digunakan di jalananan yang terjal, maka Sudirman pun harus berjalan kaki, dan ketika ia tidak sanggup berjalan kaki maka Sudirman harus digendong oleh pengawal pribadinya yang sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri yaitu, Nolly (Tjokpropranollo, 1924-1988) yang kelak menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 1977-1982.

Sebagai seorang panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR), persoalan yang dihadapi Soedirman bukan sebatas kondisi fisik yang lemah atau hal-hal yang bersifat personal lainnya, bukan pula melulu soal perlengkapan militer musuh yang jauh lebih canggih dan pasukan yang lebih terlatih dan terorganisir. Keberadaan Simon Spoor sebagai komandan pasukan musuh yang menjadi otak Operasi Burung Gagak pun tidak pula menggetarkan nyalinya.

Namun pengkhianatan dari sebagian politisi Indonesia yang mewakili negara dalam berbagai perundingan, tapi justru kerap merugikan pihak sendirilah yang justru meresahkannya. Tidak sedikit pula orang Indonesia yang menjadi komprador, kolaborator bahkan menghamba Belanda dengan menjadi anggota delegasi penjajah tersebut. (Halaman 54)

Baca juga :  Sejarah SEA Games

“Belanda menggunakan madat untuk menguasai orang-orang tertentu, orang berpengaruh. Para preman yang suka mengganggu masyarakat. Mereka dijadikan antek-antek Belanda dengan madat sebagai pengikatnya….Di sini, rakyat tanpa madat bisa berkhianat….” (Halaman 270)

Masih banyak hal-hal menarik yang dapat kita baca sepanjang perjalanan gerilya Jenderal Sudirman beserta anak buahnya. Tidak hanya petualangan, namun kegalauan yang dialami Sudirman selama bergerilya juga terungkap di sini. Yang paling menonjol adalah kekecewaannya terhadap para pejabat sipil yang memilih jalan perundingan yang hasilnya selalu menguntungkan Belanda.

“Kita tidak boleh tertipu lagi dengan politik perundingan” Sudirman berharap ketiga pejabat sipil itu menyampaikan pandangan militer tersebut kepada pejabat sipil lainnya, agar mereka tidak buru-buru menerima tawaran perundingan dari Belanda atau pendukung mereka. “Pemerintah jangan mengabaikan hasil perjuangan tentara dan rakyat di medan perang,” kata Sudirman. (Halaman 218)

Belanda sudah dibuat sesak napas di medan gerilya. Itu harus menjadi pertimbangan pemimpin negara dalam menghadapi Belanda. Sudirman khawatir, perjuangan gerilya ini akan berakhir di meja perundingan yang membuat Indonesia terpuruk dalam lubang yang sama. (Halaman 277)

Di hadapan para perwira tinggi dalam rapat Sudirman tidak lagi menutup kekecewaannya kepeda pemerintahan sipil. “Delegasi kita terlalu lemah dalam mengajukan usul-usul. Mereka telah melemahkan arti perjuangan kita selama ini. Mereka tidak percaya pada kekuatan militer sendiri. Lihat saja, dalam persetujuan ini kita disebut sebagai ‘segerombolan pengikut senjata’. Kita tidak dianggap sebagai tentara. Hanya gerombolan, seperti preman…” (Halaman 291)

Masih banyak hal-hal menarik dari novel tentang perjalanan gerilya Jenderal Sudirman berserta anak buahnya ini. Novel ini berakhir ketika Sudirman kembali ke Jogya untuk menghadap Bung Karno, di lembar terakhir kita akan melihat bagaimana ia masih menyimpan kekecewaan atas perjuangan diplomasi beserta hasilnya yang dilakukan pejabat sipil. Di sini Sudirman sampai pada titik galaunya dimana terbesit kienginannya untuk mundur dari jabatannya sebagai panglima TNI.

Keputusanku sangat bergantung pada hasil pembicaraan dengan Sukarno dan Mohammad Hatta nanti, atau setelah parade militer berlalu. Apakah akan mundur sebagai panglima TNI atau tidak, aku tidak akan terburu-buru dalam mengambil keputusan. Sekarang ini tidak lagi berada di medan gerilya yang menuntut keputusan cepat dan strategis. Perjanjian politik sudah memadamkan api gerilya. (Halaman 310)

Sosok seperti Soedirman mungkin tidak akan memiliki ganti. Kecanggihan strategi gerilyanya, semangat juang, keikhlasan serta kecintaan terhadap negara dan bangsa patut menjadi kebanggaan sekaligus teladan bagi siapa saja, terutama para prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang sangat beruntung memiliki panglima besar pertama sepertinya.

Sosok Soedirman yang religius dan nasionalis seharusnya menjadi cermin bagi segenap anak bangsa bahwa antara agama dan nasionalisme tidak pernah ada pertentangan. Soedirman dan tokoh-tokoh pejuang lain membuktikan hal itu.

Kendati demikian, buku ini tidak dimaksudkan sebagai sebuah biografi maupun jejak gerilya Soedirman secara utuh. Namun ditulis sebagai sebuah karya sastra yang hendak menularkan nyala api semangat Soedirman kepada khalayak pembaca. Karenanya, untuk memperkaya literasi, diperlukan melakukan pembacaan tambahan atas karya-karya sejenis lainnya.

Leave a Reply

*

Top