You are here
Home > Dari Media Lain > Anak Buah Sadar, Goliath Tabuni Lirik Pembangunan Tinggi Nambut

Anak Buah Sadar, Goliath Tabuni Lirik Pembangunan Tinggi Nambut

Pembangunan yang terus digalakkan oleh pemerintah Kabupaten Puncak Jaya dibawah kepemimpinan bupati, Drs. Henock Ibo di Distrik Tinggi Nambut, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, salah satunya adalah masalah gangguan keamanan dari kelompok TPN/OPM Goliath Tabuni.

Meski Goliath Tabuni bersama anggotanya terus melakukan penembakan, namun hasil pembangunan namun hasil pembangunan itu sudah mulai dirasakan masyarakat bersama mantan kelompok Goliath Tabuni, bagaimana tantangan dan startegi mengatasinya?

“Sebelum saya turun gunung pada tahun 2012 silam, saya minta ke bupati Henock Ibo dan TNI atau Polri untuk bangun Distrik Tinggi Nambut, bupati sampaikan, ya kami lakukan pembangunan karena ingin ada pembangunan, akhirnya saya bergabung dengan pemerintah”, inilah ucapan yang disampaikan sopir Murib selaku mantan TPN/OPM anak buah Goliath Tabuni, ketika ditemui di Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Rabu (17/08/2016) lalu.

Sopir Murib dikenal sebagai kaki tangan Goliath Tabuni  yang diberikan jabatan sebagai sekertaris, dia dipercaya sebagai penulis surat undangan untuk dikirimkan kepada kelompok TPN/OPM lainnya ketika melakukan sasaran penembakan di wilayah Tinggi Nambut dan sekitarnya. Perjuangan kelompok Tabuni tercatat sejak tahun 2004 hingga 2011, mereka tetap melawan pemerintah karena menganggap kelompok OPM bukan bagian dari NKRI, sehingga terus melakukan penembakan terhadap aparat dan juga masyarakat sipil maupun kepada para pekerjaan pembangunan di distrik Tinggi Nambut.

Akhirnya sopir sadar karena perjuangan yang mereka lakukan tidak membuahkan hasil karena mereka masih tetap hidup di hutan belantara tanpa menikmati pembangunan secara utuh, sehingga pada tahun 2012 akhirnya memutuskan bergabung dengan pemerintah untuk bersama-sama membangun daerah.

“Saya turun sejak itu bukan karena paksa, saya ikhlas untuk bergabung, saya bosan karena isteri dan keluarga saya tidak ada kehidupan yang layak, kami hidup dihutan, saya tidak mau kehidupan keluarga saya begitu terus” kata sopir berambut gimbal itu.

Sejak turun, sopir mulai mengajak satu persatu rekan-rekannya untuk bersama-sama turun membangun Tinggi Nambut dan meminta agar meninggalkan semua apa yang sudah dilakukan selama ini, sejak itulah bupati mulai merangkul dan ikut mengambil bagian membangun distrik Tinggi Nambut.

Ajakan yang dilakukan sopir akhirnya menghasilkan puluhan kelompok Goliath Tabuni turun dari gunung yang kemudian para pengikutnya yang tersebar di wilayah Kabupaten Puncak ikut turun bergabung. “Begitu kami turun, barulah kami merasakan kemerdekaan yang sebenarnya, kemerdekaan itulah Indonesia” kata sopir sambil melihat ke atas ketika usai mengikuti peringatan HUT RI ke-71 di lapangan Roh Kudus, Mulia.

Ia mengakui, sejak pembangunan di Tinggi Nambut yang merupakan tanah kelahirannya mulai maju maka, Goliath Tabuni mulai melirik untuk turun dari gunung karena pembangunan sudah ada. “Orang tua di atas (Goliath Tabuni) lirik-lirik pembangunan di Tinggi Nambut tapi dia belum bisa turun, tapi dia dukung kalau kami melakukan pembangunan bersama pemerintah” katanya.

Ia mengemukakan orang tua (Goliath Tabuni) masih di atas dan dia sudah tua, tidak bisa berbuat apa-apa, “Kami minta Goliath Tabuni tak mengganggu pembangunan” kata sopir yang sudah sempat menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Sementara itu, Teranus Enumbi merupakan komandan pleton sebagai tangan kanan Goliath Tabuni, yang selama ini menjadi komandan penyerangan pihak Goliath Tabuni dan merupakan kunci utama ketika melawan Goliath Tabuni, mengaku secara ikhlas menyatakan diri bergabung menjadi warga Indonesia. “Kami sudah sudah bosan berjuang karena hasil yang kami capai tidak ada dan kami malah menderita dan menjadi korban” kata Terianus Enumbi.

Ia mengaku sebelum turun gunung, dirinya bersama rekan-rekan meminta kepada Goliath untuk harus turun menerima pembangunan karena apa yang sudah diperjuangkan tidka mendapatkan hasil, “Pak Goliat Tabuni mempersilahkan kami untuk bergabung, tapi kami dilarang untuk kembali” ungkap Teranus.

Baca juga :  Melalui Program TMMD 97 Mimpi Masyarakat Wrykapal Menjadi Kenyataan

Teranus menyatakan, pak Goliath ingin turun  gunung tapi karena menganggap banyak kesalahan yang dilakukan sehingga tetap bertahan digunung, dia (Goliath) tidak ingin ada lagi korban, tidak ada lagi penembakan, malah lirik terus pembangunan di Tinggi Nambut, ujarnya.

Hal sama disampaikan Boni Telenggen yang baru saja turun dari distrik Yambi untuk bergabung menerima pembangunan, juga mengaku bahwa perjuangan yang dilakukan sia-sia. “Kehidupan saya tidak ada artinya sehingga saya turun” katanya dengan tenang.

Boni yang merupakan anak buah dari Tenga Mati dari pimpinan Lekaka Telenggen wilayah Yambi, mengaku perjuangan yang dilakukan sudah cukup lama, meski tidak pernah melakukan penembakan, tapi senjata milik aparat dirampas saat rekan-rekan melakukan penyerangan pos.

“Kami hanya hidup di hutan, anak saya empat orang tiga istri, tidak bisa sekolah jadi saya tidak mau mereka buta huruf. Tidak kesejahteraan dalam perjuangan kami, malah kami mati karena kelaparan, akhirnya saya putuskan untuk bergabung” katanya sambil memegang anaknya yang bungsu.

Sementara itu, bupati Puncak Jaya Henock Ibo mengakui, bahwa pembangunan yang dilakukan di Tinggi Nambut  sejak dirinya dilantik pada tahun 2012 lalu tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi karena perjuangan yang teru dilakukan. “Sejak saya sempat habis akal, tapi karena semangat yang dibangun oleh TNIO/Polri dan satuan terkait membuat saya bangkit melakukan pembangunan, saya ingat benar saat itu Dandim 1714/PJ, Pak Joe Sembiring dan teman-teman lain terus membuat semangat saya dan juga seluruh SKPD untuk tak mudah menyerah, harus ada perubahan apa saja harus kita lakukan” kata Bupati.

Hal itu, lanjut bupati bahwa tahun 2014-2015 pihaknya menggelontarkan dana APBD sebanyak 75 miliar untuk pembangunan jalan Mulia – Tinggi Nambut. “Dulu untuk sampai di daerah ini dari Mulia ditempuh dengan dua jam perjalanan darat, tapi saat ini hanya berkisar 20-25 menit” katanya.

Untuk terus membuat mobilisasi warga terasa nyaman dan menikmati pembangunan tersebut, Hanock meminta kementrian pekerjaan umum untuk mengaspal jalan sepanjang empat kilometer itu, “tahun lalu, jalan ini masuk Trans – Papua yang seharusnya dibiayai oleh APBN untuk pengaspalan, dua tahun ini seharusnya ada pengaspalan, tetapi sampai saat ini tak dilakukan. Pembangunan jalan di Puncak Jaya sangat penting dilakukan, salah satunya untuk menekan harga kebutuhan pokok yang tinggi” ujar dia.

Usai ruas jalan Mulia – Tinggi Nambut terbuka, Pemda puncak Jaya membangun 25 rumah bagi masyarakat, lalu tahun lalu SD,SMP dan pasar di Tinggi Nambut mulai diaktifkan kembali. “Aktivitas masyarakat mulai berjalan baik saya pun mendapatkan  laporan dari warga, termasuk Goliath Tabuni yang masih mengintai pembangunan yang sedang berjalan.

Goliath pun pernah menelpon saya dan memberikan apresiasi atas pembangunan yang telah dinikmati masyarakat” katanya. Henock Ibo berharap Tinggi Nambut dapat menjadi percontohan pembangunan di Papua, alasannya Tinggi Nambut menjadi daerah konflik yang dapat berubah dalam pembangunan dengan minimnya transportasi di daerah itu dan kemahalannya.(Prd/Cen)

 

Sumber : Koran Bintang Papua edisi Sabtu 20 Agustus 2016 Hal 1 dan 2 (Media Lain)

Leave a Reply

*

Top