You are here
Home > Dari Media Lain > Berjibaku Membangun jalan Penghubung (Papua)

Berjibaku Membangun jalan Penghubung (Papua)

Oleh: Josie Susilo H/ Nobertus Ariya Dwiangga/ Fabio M Lopes

Dum! Dentuman membahana, mengoyak sepi pagi di Mbua. Karang pun hancur. Serpihannya melesat di kiri-kanan tubuh meski berjarak 200m lebih. Layar monitor kamera yang terhantam serpihan pun pecah, Krak…

Ledakan memberi tambahan trase jalan selebar 2 meter. Namun, tim demolasi dari Detasemen Zeni Tempur XII/Nabire dan Denzipur XII/Sorong masih harus melakukan peledakan ulang untuk menambah lebar trase menjadi total 7 meter. Tak ada cara lain, dinding batu itu memang harus dihancurkan untuk memperlebar ruas jalan penghubung Distrik Mbua dan Distrik Dal, Kabupaten Nduga.

Keputusan itu diambil setelah tim gabungan dari Denzipur XII/Nabire dan Denzipur XII/Sorong menilai trase tersebut termasuk titik rawan. Dinding karang yang berdiri tegak lurus itu berada tepat di sebuah tikungan sekaligus tanjakan curam dengan lebar badan jalan hanya 4 meter.

Setiap kali operator eksavator Denzipur melewati titik itu dan melakukan olah gerak, mereka menilai trase itu harus di  perlebar. Mereka tidak mau mangambil risiko nantinya pengguna jalan Trans-Papua celaka saat melintas di ruas jalan itu, apalagi tepat di sisi lain trase menganga lebar jurang terjal sedalam lebih kurang 100m.

Di trase lain, mereka justru berupaya keras membuat sab-sab seperti anak tangga pada dinding tebing yang memiliki struktur yang ringkih, paduan antara tanah dan batu-batu bulat. Mereka tidak ingin curah hujan yang sangat tinggi di kawasan pegunungan Jayawijaya meluruhkan dinding itu dan menutup badan jalan dan parit yang telah dibuat.

Alat berat dipereteli

Di Paro dan Yuguru, yang berjarak 50 km dan 70 km dari Mbua ke arah Mumugu, tim dari Batalyon Zipur XVIII/Gianyar Bal, juga menghadapi tantangan serupa. Meski bekerja di dataran yang lebih rendah, lebih kurang 700m di atas permukaan laut(dpl), tantangan yang dihadapi tidak menjadi lebih mudah.

Sungai-sungai selebar lebih kurang 30m, dalam dan berarus kuat sempat membuat langkah mereka terhenti. Bukit-bukit batu menghadang di beberapa lokasi. Beratnya medan membuat mobilisasi alat pun menjadi sulit dan membuat langkah pasukan yang masuk dari arah Mamugu itu tertahan selama lebih kurang satu bulan.

Alat-alat berat seperti eksavator dan buldoser harus di bongkar menjadi tujuh bagian dan mobilisasi menggunakan helikopter dari kenyam menuju Yuguru dan Paro. Butuh waktu dua minggu untuk memobilisasi, merakit ,dan mengaktifkan alat. Tantangan tak berhenti. Saat optimalisasi pekerjaan dimulai Mei lalu. Ditengah lebatnya hutan tropis, sebagian anggota Yonzipur XVIII terkena serangan malari. Situasi itu kian parah karena cuaca yang dengan cepat berubah membuat arus logistik dari Kenyam terhambat.

“Pernah satu kali heli tidak bisa masuk. Selama kurang lebih 2 minggu cuaca sangat buruk Logistik makin menipis dan kami terpaksa mencari pisang hutan untuk bertahan. Pokok batang pisang yang berwarna putih itu kami masak dengan bumbu seadanya,” pipinan organisasi pelaksana (POP) II, letkol Djoko Rahmanto.

Namun, perjuangan mereka tidak sia-sia. Hingga pertengahan Agustus lalu, Yonzipur XVIII berhasil melandaikan sejumlah trase. Volume pekerjaan yang telah mereka capai 273.000 meter kubik dari 300.000 meter kubik yang ditargetkan. Saat ini, mereka tengah mengalihkan trase jalan dari jalur di perbukitan batu. Tak jauh dari kali Loe, ke lokasi yang lebih landai menyusuri pinggiran bukit batu.

Baca juga :  55 Putra Terbaik Papua Siap Jadi Prajurit TNI

Mesin truk dimodifikasi

Pencapaian lain juga diraih tim POP III yang dipimpin Lekol Fauzan Fadli. Pasukan dari Yon Zikon Lenteng Agun Jakarta itu berhasil membuat jalan baru sepanjang lebih kurang 29,3Km di atas rawa-rawa dan hutan sagu. Jalan baru itu menghubungkan Kampung Mumugu dengan Batas Batu. Namun, belum semua ruas baru itu dapat dilalu. Tanah rawa yang jadi basis trase itu membuat timbunan terus ambles.

Dihadapkan pada tantangan itu, selain melapisi badan jalan dengan geotextile, tim POP III memodifikasi tiga mesin truk pengangkut yang mereka miliki menjadi alat penyedot pasir. Fauzan berasumsi, pasir yang berasal dari sungai di sisi jalan dapat digunakan mendorong lumpur dari badan jalan dan menggantikannya dengan pasir.

“teorinya seperti pasir di tepi laut yang setiap kali terkena ombak langsung menghisap air dan menjadikan lapisan pasir itu menjadi lebih padat dan keras. Karena lumpur di jalan sifatnya akan terdorong jika diberi pasir,” kata Fauzan.

Asumsi dan teori itu ternyata benar. Saat ini, pada jalur baru itu, tim POP III berhasil membuat jalan yang mampu dilewati truk ditambah material seberat 3 ton sepanjang lebih kurang 2km. “Target saya, Desember, jalan penghubung daari Mamugu sampai Batas Bat dapat dilewati kendaraan. Saya usahakan menambah alat, ada dari Makkasar. Sekarang ada empat penyedot pasir, tiga diantaranya dari mesin truk yang kami bongkar dan modifikasi, “kata Fauzan.

Itulah sebagian dari harga yang harus dibayarkan untuk mengembangkan Papua. Setiap hari, prajurit itu berjibaku mewujudkan mimpi pemerintahan Presiden Jokowidodo yang ingin menekan disparitas harga dan memudahkan layanan publik, terutama bagi warga diwilayah pedalaman Papua.

“kemajuan suatu wilayah hanya dapat berlangsung jika wilayah itu dapat terhubung dengan wilayah itu dapat terhubung dengan wilayah lain atau ada interkoneksi, “ kata menteri pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono.

Khusu untuk ruas Mumugu-Wamena, saat ini pemerintah mengalokasikan anggaran Rp.361 M. “ Sekarang sedang direvisi karena akan ada tambahan Rp.45 M,” kata Basuki membawa harapan.

Sumber : Koran Kompas 23/8/2016

Leave a Reply

*

Top