You are here
Home > Tulisan > Rohani > Diantara Berbagai Keadaan Zaman Berikut Ini, Dimanakah Kita Berada..??

Diantara Berbagai Keadaan Zaman Berikut Ini, Dimanakah Kita Berada..??

Aku khawatir dengan suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan. Keyakinan hanya tinggal pemikiran, yang tak berbekas dalam perbuatan.

Banyak orang yang baik tapi tak berakal, ada orang yang berakal tapi tak beriman.

Ada lidah fasih tapi berhati lalai. Ada yang khusyuk namun sibuk dalam kesendirian.

Ada ahli ibadah namun mewarisi kesombongan iblis. Ada ahli maksiat rendah hati bagai sufi.

Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat. Ada yang banyak menangis karena kufur nikmat.

Ada yang murah senyum namun hatinya mengumpat. Ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut.

Ada yang berlisan bijak namun tak memberi teladan. Ada pezina yang tampil menjadi figur.

Ada yang punya ilmu tapi tak paham. Ada yang paham tapi membodohi. Ada yang bodoh tapi tak tahu diri.

Ada orang beragama tapi tak berakhlak. Ada yang berakhlak tapi tak berTuhan.

 

Lalu, di antara semua itu, dimanakah kita berada..?

Memperhatikan frase awal ungkapan “Aku khawatir dengan suatu masa” di atas, menunjukkan bahwa ungkapan tersebut merupakan ungkapan yang telah diucapkan jauh-jauh hari dari jaman ini. Ya, memang benar.

Menurut informasi yang diterima, ungkapan di atas merupakan ucapannya Imam Ali As, seorang saudara, pembantu, sahabat, menantu dan wazirnya Nabi Muhammad SAWW.

Ungkapan di atas disatu sisi mengandung keindahan, kata-katanya tersusun rapi, alurnya mengalir, serta mengandung nilai balaghah (bahasa) bak puisi yang tinggi nilainya. Di sisi lain, ungkapan di atas juga begitu berbobot, begitu menelusuk ke dalam relung jiwa, menghujam ke dalam hati, menggugah pikir serta mendobrak diri. Hal tersebut tentu maksudnya hanya untuk mereka-mereka saja yang masih mempunyai hati yang subur nan gembur dalam menerima hidayah. Karena, bagi mereka yang hatinya telah keras, yang dalam frase al-Quran dikatakan bak batu atau bahkan lebih keras lagi.

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً (QS. Al-Baqarah 2:74).

Tentulah bagi mereka ungkapan di atas hanyalah seperti angin lalu, sekalipun muatannya syarat dengan hikmah. Hati mareka buta dan akal mereka tumpul, diri mereka dipenuhi dosa sehingga karena mereka sendirilah mereka begitu sulit menerima hidayah.

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allâh penyakitnya …. (al-Baqarah/2:10)

وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لا يُؤْمِنُونَ

“Dan sama saja bagi mereka, apakah engkau memberi peringatan kepada mereka atau engkau tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman juga.” (QS. Yaasiin 36:10)

Semoga kita masih termasuk di antara mereka-mereka yang masih berpotensi menerima hidayah.

Baik, kita kembali kepada ungkapannya imam Ali As. Dalam ucapannya 1.400 tahunan yang lalu, beliau begitu menghawatirkan suatu masa, yang di dalamnya seperti apa yang beliau uraikan. Pertanyaannya, apakah jaman ini sudah masuk kriterianya dari yang beliau As khawatirkan..?

Untuk mengetahui jawabannya, silahkan para pembaca yang budiman yang menilainya masing-masing.

Pertama, beliau mengkhawatirkan, “masa yang rodanya dapat menggilas keimanan. Keyakinan hanya tinggal pemikiran, yang tak berbekas dalam perbuatan”. Pada frase ini, beliau menggambarkan bahwa masa yang beliau begitu khawatirkan adalah masa yang mana keimanan kalah tergilas. Pada masa tersebut, akan banyak orang yang memiliki kemampuan berfikir yang cerdas, namun semua itu tak pernah berbekas atau teraplikasikan dalam perbuatan. Sudahkah jaman ini masuk dalam kriteria tersebut..?

Kedua, beliau mengkhawatirkan masa, “banyak orang yang baik tapi tak berakal, ada orang yang berakal tapi tak beriman”. Sungguh miris, hari ini banyak kita temui begitu banyak orang yang baik, namun mereka kurang berilmu karena kurang menggunakan akalnya. Di sisi lainnya, banyak juga orang yang mengguna akalnya, kepintarannya, namun digunakan untuk kejahatan dan keburukan.

Ketiga, beliau mengkhawatirkan masa, “Ada lidah fasih tapi berhati lalai. Ada yang khusyuk namun sibuk dalam kesendirian”.  Banyak orang yang kita temui begitu bijak dalam kata-katanya, mengandung mutiara-mutiara nasihat, namun dia sendiri malah tidak melaksanakannya. Di sisi lainnya, banyak juga kita temui orang-orang yang khusyuk beribadah, namun mereka melupakan kehidupan sosial. Mereka seolah-olah sedang benar-benar mengejar hubungannya dengan Tuhannya, namun dalam waktu yang sama mereka juga melupakan hubungan sosial yang diperintahkan Tuhannya, sekalipun mereka tidak menyadarinya.

Keempat, beliau mengkhawatirkan masa, “Ada ahli ibadah namun mewarisi kesombongan iblis. Ada ahli maksiat rendah hati bagai sufi”. Bukan hal yang aneh. Kita juga banyak temui banyak orang yang secara kuantitas ibadahnya begitu tinggi, tapi di saat yang sama ia juga terjatuh dalam kesombongan. Hal itu, sebagaimana ucapan Imam Ali As tersebut, ia mewarisi kesombongan iblis, yang padahal si iblis itu dahulunya seorang ahli ibadah yang telah mampu mencapai maqom malaikat. Di sisi lainnya, juga kita saksikan banyak orang-orang yang begitu ringannya/mudah melakukan maksiat, namun di hadapan manusia ia terlihat selalu berbuat kebaikan tanpa pamrih.

Baca juga :  Hidup Berlandaskan Kasih di Dalam Tuhan

Kelima, beliau mengkhawatirkan masa, “Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat. Ada yang banyak menangis karena kufur nikmat”. Karena kelalaian, hari ini juga kita saksikan bahwa begitu banyak orang yang banyak tertawa sia-sia. Mereka tertawa seolah-olah mereka meyakini secara pasti bahwa tidak akan ada nasib buruk yang menimpa ke depannya, sehingga membuat hati mereka bagai karat yang begitu akut. Di sisi lainnya, tentu tidak sedikit kita saksikan banyak orang yang berkeluh kesah, menangisi nasibnya, mengingkari nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan.

Keenam, beliau mengkhawatirkan masa, “Ada yang murah senyum namun hatinya mengumpat. Ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut”. Semoga saja kita tidak termasuk yang dikatakan dalam frase ini. Ya, memang benar, bukankah banyak kita saksikan banyak orang yang berbicara di muka dengan penuh ketulusan namun di belakang kita mereka mengumpat..? Yang dengannya juga, disayangkan banyak juga yang sebaliknya, banyak yang benar-benar memiliki hati yang tulus, namun tidak cukup mampu melatih roman wajah sehingga selalu tampak cemberut.

Ketujuh, beliau mengkhawatirkan masa “Ada yang berlisan bijak namun tak memberi teladan. Ada pezina yang tampil menjadi figur”. Banyak terjadi saat ini orang-orang bisa tampil di muka umum untuk memberikan nasihat yang baik kepada orang lain, akan tetapi itu semua hanya di mulut saja, bahkan dia sendiri tidak mampu menasihati dirinya sendiri. Sebagai seorang figur yang hanya bisa jadi tontonan namun tidak bisa dijadikan tuntunan. Dan bukan hal yang aneh lagi, hari ini kita saksikan banyak tampil tokoh-tokoh yang terbukti pernah melakukan perrzinahan secara terang-terangan, namun yang mempuat pilu disini justru orang-orang seperti mereka yang saat ini dijadikan seorang idola, di elu-ulukan bahkan sampai histeriss. Menghadap Tuhannya saja tidak pernah menangis, tetapi bertemu manusia yang pasti berdosa sampai histeris, bahkan pingsan-pingsan. Na’udzubillahi min dzaalik – Kita berlindung kepada Allah SWT dari semua itu.

Ke delapan, beliau mengkhawatirkan masa “Ada yang punya ilmu tapi tak paham. Ada yang paham tapi membodohi. Ada yang bodoh tapi tak tahu diri”. Di sini, Imam Ali As menggambarkan bahwa masa yang dikhawatirkannya, banyak orang yang berilmu tapi tak paham. Maksudnya apa..? Tentu hanya beliau As dan Allah Swt yang lebih tahu. Tapi kalau boleh diraba, orang yang berilmu tapi tak paham, adalah orang yang hanya mengetahui ilmu dalam tataran pikirannya saja, dia tidak benar-benar paham bahwa seharusnya ilmu yang mereka ketahui adalah untuk teraplikasi dalam amal yang nyata. Ada yang paham ilmu tetapi justeru yang di ucapkannya membuat bingung orang, yang demikian itu adalah berbahaya karena bisa menyesatkan orang lain, dan yang bodoh karena terlalu picik pikirannya malah terlalu bangga dengan sedikitnya ilmu yang dimilikinya sehingga merasa hanya dirinyalah yang benar-benar faham ilmu.

Ke sembilan, beliau mengkhawatirkan masa “Ada orang beragama tapi tak berakhlak. Ada yang berakhlak tapi tak berTuhan”. Inilah yang paling buruk. Banyak kita saksikan sekarang, banyak orang yang mengaku beragama, berTuhan, namun tingkah laku yang ditunjukkan dalam sehari-harinya adalah tingkah laku dari akhlaq manusia yang sama sekali tidak pernah mengenal agama. Di sisi lain, banyak orang saat ini yang tampak secara lahiriah selalu berakhlak, sopan santun, berbudi pekerti bauk namun disayangkan sekali bahwa mereka tidak mempercayai adanya Tuhan.

Demikianlah ucapan yang indah sekaligus yang menghujam dari imam Ali As, dari sosok yang yang paling berilmu setelah Nabi Muhammad SAWW.

أَنَا مَدِيْنَةُ العِلْمِ وَعَلِى بَابُهَا

“Saya (Rasulullah) adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya.” (al-hadits).

Pertanyaannya, dimanakan kita berada di antara semua kriteria-kriteria itu..??

Semoga saja kita senantiasa berada dalam kriteria-kriteria baik. Senantiasa berada dalam tataran keimanan yang kokoh, tidak kalah tergilas godaan jaman. Selain itu, apa yang kita yakini juga berbekas dan mewujud dalam perbuatan yang nyata.

Kita selalu berharap kepada Alloh SWT semoga kita dijadikan orang yang baik sekaligus berakal, berlidah fasih dilandasi kekhusyukan, menjadi ahli ibadah yang tidak mewarisi kesombongan iblis, menjadi pribadi yang rendah hati dan bukan ahli maksiat, tidak banyak tertawa sia-sia karena lalai, pantang mengeluh hanya karena dunia, murah senyum dengan hati yang tulus disertai dengan wajah yang berseri-seri, memiliki lisan bijak dan mampu memberikan teladan dalam perbuatan, memiliki banyak ilmu yang terpahami secara mendalam, serta benar-benar beragama yang termanisfestasi dalam akhlak.

Pada hari jum’at yang penuh berkah ini, marilah kita senantiasa memperbaiki diri..! (Ib/Cen)

Leave a Reply

*

Top