You are here
Home > Sisi Lain > Sastra > Diujung Nusantara, Kami Berdiri Kokoh Perkasa

Diujung Nusantara, Kami Berdiri Kokoh Perkasa

Ketika sang surya pergi meniti merambah panas, kami bergegas menuju batas. Bersamanya kami rela basahi raga ini dengan cucuran  keringat menuju tapal batas.

Berjalan waspada, membentuk formasi siaga, membelah belantara raya  untuk mengawal nusantara.

Seakan tidak perduli dengan aksi terik sang surya dan terjalnya bukit karang,  kami tetap lantang datang penuhi panggilan ibu pertiwi diujung timur negeri nan jauh terbentang.

Dibibir laut pasifik kami berdiri siaga, menebar pandangan mata  sejauh cakrawala,  seraya berkata, “kami prajurit Tombak Sakti akan selalu menjadi pagar perkasa  nusantara nan jaya.”

Walaupun bergulung-gulung ombak laut pasifik datang dengan sombong menghantam setiap sudut dinding karang, dan kencangnya bayu bergelayut meniup tajam kesetiap lembah,  kami akan tetap lantang  menantang seraya  menyandang senjata  sebagai tanda rasa bangga penuh percaya.

Baca juga :  Merah Putih

Dalam benak kami berkata, “kami prajurit Tombak Sakti putra bangsa yang perkasa, takkan membiarkan sejengkal bumi nusantara hilang tercabik-cabik dan buyar  berserak.”

Dengarlah dengar, derap suara langkah kami disana. Menghentak serentak penuhi panggilan jiwa untuk nusantara yang perkasa. (Prd/Cen)

Leave a Reply

*

Top