You are here
Home > Tulisan > Umum > Ekidna, Si Mamalia Unik Dari Papua

Ekidna, Si Mamalia Unik Dari Papua

Indonesia memang sangat kaya dengan keanekaragaman Satwa unik yang hidup di se-antero wilayang Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Kali ini kita akan membahas tentang salah satu hewan unik yang merupakan salah satu satwa khas kekayaan asli Indonesia yang memiliki tubuh berduri layaknya landak.

Binatang Mamalia biasanya berkembangbiak dengan cara melahirkan/beranak namun uniknya, hewan Mamalia yang berasal dari Papua ini berkembangbiaknya dengan cara bertelur. Itulah “Ekidna”, hewan Mamalia yang berkembang biak dengan bertelur yang berada di Bumi Papua Indonesia.

Ekidna adalah hewan yang memiliki duri di tubuhnya seperti landak, mereka mencari makan di batang pohon dan gundukan tanah untuk menemukan makanan spesialnya yaitu rayap. Ukuran binatang ini sendiri cukup variatif, mulai dari 30 hingga 55 cm, sedangkan berat tubuh mereka berada dalam kisaran tiga hingga enam kilogram.

Hewan soliter (penyendiri) ini aktif di malam hari. Walau sekilas mirip dengan landak, mereka tidak berada dalam satu kelompok. Ekidna tidak memiliki gigi, mereka menggunakan lidahnya yang lengket untuk menangkap rayap dan memangsanya hidup-hidup.

Ekidna memiliki lengan yang kuat dan pendek yang dilengkapi dengan lima buah cakar tajam di setiap lengannya. Moncongnya yang panjang membantu fungsi penciumannya untuk mendeteksi bau makanan, menghindar dari predator lain, maupun untuk mengenali ekidna lain. Meskipun tidak memiliki gigi, namun ekidna memiliki lidah yang lengket yang digunakan untuk menangkap rayap dan insekta. Mereka menelan mangsa secara hidup-hidup.

Baca juga :  Mengingat G30S/PKI dalam peringatan 50 Tahun Kesaktian Pancasila

Keunikan utama dari Ekidna adalah cara berkembang biaknya dengan bertelur namun sekaligus menyusui. Telur Ekidna juga memiliki keunikan tersendiri karena memiliki bulu serta cangkang yang lunak dan telurnya itu hanya satu buah saja.

Setelah telur menetas bayi Ekidna tidak bisa langsung berjalan-jalan bebas seperti bayi-bayi Mamalia lainnya setelah lahir. Ekidna kecil akan berada dalam kantong induknya hingga usia 45 – 55 hari seperti bayi Kanguru.

Setelah Ekidna kecil tubuhnya mulai ditumbuhi duri maka sang ibu akan menggali lubang di tanah untuk tempat tinggal sementara anaknya. Ibu Ekidnya kemudian akan kembali dalam setiap lima hari untuk menyusui sang bayi hingga usia tujuh bulan.

Mamalia petelur asli Papua yang unik ini sekarang masuk dalam daftar satwa dilindungi karena sudah terancam punah. Jadi, mari kita hargai dan cintai satwa-satwa unik milik tanah air kita, demi anak cucu kita di kemudian hari supaya masih bisa melihat satwa langka ini. Kita harus jaga kelestarianya, kita jaga kehidupanya demi masa depan anak cucu kita.

Salam Ksatria

Leave a Reply

*

Top