You are here
Home > Pengetahuan > Militer > HUT “Prajurit Terbang” Ke-57 Tahun

HUT “Prajurit Terbang” Ke-57 Tahun

“Bravo Wira Amur Ke-57 tahun”

PENERBAD Sang “Prajurit Terbang” TNI Angkatan Darat pada tahun ini ber ulang tahun yang ke 57 tahun, tepatnya pada tanggal 14 November 2016. Wira Amur yang merupakan sesanti prajurit penerbad sendiri memiliki arti “Prajurit Terbang” yang merupakan kebanggaan seluruh prajurit Penerbad.

Pusat Penerbangan Angkatan Darat atau Penerbad adalah kesatuan yang memiliki sarana penerbangan dan bertugas mendukung mobilitas tempur TNI-AD. Penerbangan Angkatan Darat dioperasikan dalam medan tempur, apabila keunggulan udara telah dikuasai oleh pihaknya. Sasaran di balik bukit yang tidak dapat dijangkau dengan tembakan artileri, dapat diserang secara langsung oleh helikopter Angkatan Darat (AD) atau oleh pasukan mobil udara (mobud).

Operasi Mobud (Mobile Udara) merupakan bentuk spesifik operasi TNI Angkatan Darat yang diselenggarakan dan dilaksanakan sebagai suatu operasi antar kesenjataan Infanteri, Kavaleri, Artileri dengan Penerbad. Kesenjataan Perhubungan (Komunikasi Elektronik) ikut berperan terutama dalam Komando dan Pengendalian, sedangkan Kesenjataan Zeni khususnya Zeni Tempur juga berperan setelahHeliborne Troops melakukan manuver di lapangan seperti demolisi, pemasangan ranjau pada waktu pengunduran dan lain-lain. Dengan demikian Penerbad adalah bagian integral dalam suatu operasi mobud yang sejajar dengan Korps Kesenjataan lainnya.

Persyaratan khusus menjadi penerbang TNI AD :

  • Penerbangan Militer biasanya hanya menerima lulusan SMU IPA
  • Panjang kaki dari pangkal paha minimal 100 cm
  • Harus lulus tes kesehatan meliputi jantung,mata dll.
  • Memiliki kemampuan Bahasa Inggris rata-rata
  • Cepat dalam berkalkulasi matematik dan fisika.
  • Biasanya bila sudah lulus semua persyaratan diatas, calon siswa akan diajak terbang oleh instruktur untuk mengetahui takut tidaknya siswa akan ketinggian, juga syaraf motorik siswa, tanggap tidaknya siswa akan persoalan yang biasa diberikan instruktur kepada calon penerbang, dan bakat terbang (aptitude test).

Penerbangan TNI AD (Penerbad) lahir pada tahun 1959 ketika doktrin Heliborne Troops atau Air Mobile sedang dikembangkan di berbagai kalangan. Di Serawak Pasukan Komando Inggrismelancarkan operasi mobil udara (mobud) dengan helikopter Westland Wessex Mk.1 yang berisi pasukan satu troop berkekuatan 16 orang. Dalam Perang Vietnam AD AS melakukan operasi mobud dalam bentuk Air Cavalery oleh Divisi Kavaleri-1 maupun Sky Soldier oleh Brigif Linud-173 dengan menggunakan helikopter UH-1D Huey, UH-1B Iroquois, dan CH-47 Chinook didukung helikopter serang AH-1S Huey Cobra dan CH-54 Flying Crane. Di Aljazair pasukan Para Perancis melakukan operasi sejenis dengan Alouette-III.

Ketika KSAD membuat Surat Keputusan tentang berdirinya Detasemen Penerbangan Angkatan Darat (Den Penerbad) pada tanggal 14 November 1959 dengan tugas mengurus segala kegiatan yang menyangkut bidang penerbangan organik AD, pada waktu itu Den Penerbad sama sekali belum memiliki pesawat terbang. Pada waktu itu terdengar berita bahwa pesawat DHC-2 Mk.1 Beaver milik Dr. AK. Gani yang sedang overhaul di Singapura akan dijual, maka pihak AD langsung membelinya.

Sebagai tindak lanjut, beberapa orang perwira diantaranya Kapten Binjamin Hadi, Kapten Burhan Ali dan Kapten Sukartono dikirim ke Amerika Serikat untuk mengikuti pendidikan penerbang di US Army Aviation School Fort Rocker, Alabama. Pendidikan penerbang gelombang pertama tahun 1959, disusul gelombang kedua tahun 1962 yang terdiri dari Letkol Juono, Kapten Dolf Latumahina, Kapten Sudewo, Kapten Daud Natawiyoga, Lettu T.M.F. Worang dan beberapa perwira lainnya.

Beaver satu-satunya pesawat yang dimiliki oleh Den Penerbad, ikut dalam Operasi Trikora untuk pembebasan Irian Barat. Pada tahun 1963 Den Penerbad menerima dua pesawat Cessna L-19 dalam rangka US Military Assistant Program. Kedua pesawat diterjunkan dalam Operasi Kilat untuk penumpasan pemberontakan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan dan Tenggara dalam tahun 1964. L-19 bukan hanya digunakan untuk melakukan pengintaian, tetapi juga melakukan bantuan tembakan udara dengan senapan serbu AK-47 dan stengun.

Baca juga :  Rahasia Terbentuknya Jiwa Korsa TNI

Sejalan dengan pembangunan ABRI menjelang Perjuangan Pembebasan Irian Barat dan selama berlangsungnya konfrontasi Malaysia, maka Indonesia menerima peralatan militer dari Blok Timur, diantaranya 15 helikopter Mil Mi-4 Hound bantuan Uni Soviet untuk Penerbad. Pada awal tahun 1965, helikopter itu diangkut ke Indonesia dengan pesawat Antonov An-12, kemudian dirakit oleh para teknisi AURI di Lanud Husein Sastranegara, Bandung. Para teknisis AURI juga pernah merakit helikopter raksasa Mil Mi-6 Hook di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Mi-4 yang berkapasitas angkut 14 orang dan dipersenjatai senapan mesin DShK-38 kaliber 12,7mm itu banyak digunakan untuk mendukung operasi penumpasan pemberontakan G-30S/PKI di Jawa Tengah tahun 1965-1966. Selain itu, 2 helikopter Mil Mi-4 juga dioperasikan untuk menumpas sisa-sisa pemberontakan PKI, Pasukan Gerilya Rakyat Serawak dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara di Kalimantan Barat pada 1966-1968.

Penumpasan pemberontakan G-30S/PKI berakibat dihentikannya pasokan suku cadang dari negara blok Timur. Pada tahun 1972, seluruh Mi-4 milik Penerbad dinyatakan grounded dan dihapus. Ketika persediaan suku cadang Mi-4 mulai kembang-kempis, operasi gabungan Indonesia-Malaysia dalam penumpasan pemberontakan komunis di daerah perbatasan kedua negara didukung dengan tiga dari tujuh helikopter Alouette-III yang dibeli dari Perancis lewat Hankam tahun 1970. Alouette-III yang ke-8 dibeli tahun 1975.

Dalam Operasi Flamboyan (limited combat intelligence) di Timor Timur sebelum dimulainya Operasi Seroja pada 7 Desember 1975, Puspenerbad mendukung dengan tiga helikopter Alouette-III. Tahun 1976 Puspenerbad menempatkan satu detasemen berkekuatan sembilan helikopter NBO-10CB. Setahun kemudian diperkuat dengan sebuah Britten Norman BN.2 Islander. Dalam pelaksanaan tugasnya, Puspenerbad memberikan bantuan tempur serta bantuan administrasi berupa angkutan logistik dan evakuasi medik udara. Bantuan itu dirasakan sangat besar manfaatnya bagi pasukan yang sedang melakukan manuver di lapangan.

Pada pertengahan tahun 1990-an Puspenerbad diperkuat lagi dengan beberapa helikopter Bell-205A-1 dan NBell-412. Puspenerbad ditarik dari Timor Timur pada hari-hari terakhir, ketika TNI dan Polri meninggalkan propinsi ke-27 bulan September 1999. Di Irian Jaya Puspenerbad mendukung operasi penumpasan gerombolan Marthin Tabu pada tahun 1977 dan pembebasan sandera tim peneliti Lorentz yang disekap oleh gerombolan Kely Kwalik di Mapenduma tahun 1996.

Di Aceh, Puspenerbad mengerahkan pesawatnya untuk memberikan bantuan tempur maupun bantuan administrasi terhadap pasukan darat untuk mendukung Polri yang sedang melaksanakan tugas menegakkan hukum dan ketertiban sebagai akibat terjadinya Gerakan Aceh Merdeka di bawah pimpinan Hasan Tiro. (Sumber:  http://www.penerbad.my.id/2014/01/sejarah-penerbad.html )

Banyak lagi kiprah Penerbad dalam menjaga kedaulatan wilayah negara kesatuan Republik Indonesia. Rasa kebanggaan terhadap Korps penerbang adalah hal yang tak ternilai harganya dibandingkan dengan apapun, oleh karena itu rasa kebanggan harus selalu tertanam didalam diri masing-masing prajurit TNI AD, begitu juga kebanggan menjadi seorang Penerbang TNI AD. Untuk itu bagi segenap prajurit Penerbad harus selalu siap sedia untuk selalu menjaga keutuhan wilayah NKRI yang merupakan tanah air seluruh bangsa Indonesia. Senantiasa bekerja, berkarya dan selalu berusaha untuk menegakkan Sapta Marga untuk mengharumkan nama bangsa.

Jayalah Penerbad, Jayalah TNI AD, Jayalah Indonesia!!!

Admin 1
IT Network Engineering di Infolahtadam XVII/Cenderawasih
http://youtube.com/anggayudistira

Leave a Reply

*

Top