You are here
Home > Wisata Militer > Kerajinan dan Sejarah perang Dunia ke II di Pulau Asei

Kerajinan dan Sejarah perang Dunia ke II di Pulau Asei

Perjalanan Wisata Militer kali ini, kami akan mengajak sahabat wismil untuk berkunjung ke salah satu pulau bersejarah di Kabupaten Jayapura yaitu pulau Asei, tepatnya di Danau Sentani.

Kampung Asei adalah salah satu kampung tua di Sentani. Kampung ini dihuni oleh sekitar 300 penduduk yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Untuk mencapai kampung ini kita harus menempuh perjalanan dengan waktu 30 menit dari Kota Jayapura dan 10 menit dari Bandara Sentani menuju ke dermaga di Danau sentani. Setelah sampai di dermaga hanya butuh waktu 5 menit menyeberang menggunakan perahu kayu untuk bisa sampai ke Pulau Asei. Tempat ini merupakan pulau yang paling sering dikunjungi oleh para wisatawan karena keunikan kreativitas lokal dan pecahan sejarah Perang Dunia Ke II yang tersimpan di tempat ini.

Setelah sampai di pulau ini kita akan disambut oleh para penduduk yang sangat ramah, dan yang uniknya lagi kita bisa langsung melihat beragam kerajinan kulit kayu yang di lukis dengan berbagai motif Papua yang sangat indah.

Kerajinan kulit kayu ini adalah kerajinan khas dari suku-suku yang ada di Sentani, sejarah pembuatan lukisan kulit kayu ini pun terbilang panjang. Menurut cerita warga sekitar,dahulu para warga, terutama bangsawan menggunakan pakaian adat yang bahannya di buat dari unsur kulit kayu, kemudian para pembuat pakaian biasa menggambar pada pakaian tersebut. Nah dari sinilah kerajinan melukis kulit kayu ini berkembang.

Ada berbagai motif yang disediakan, namun ada motif tertentu yang melambangkan maskulinitas ataupun feminitas, lebih berupa bentuk abstrak. Sebagian lagi melambangkan masyarakat kecil, misalnya lambang ikan dan cicak. Memperhatikan pola pola dan motif kerajinan khombouw. Harga kerajinan ini bervariasi, mulai dari 50 ribu rupiah untuk yang berukuran kecil, hingga ratusan ribu.

Namun tidak hanya kerajinan yang bisa sahabat wismil temui di pulau ini. Yang juga tidak kalah menyenangkan adalah kita bisa berkeliling, melihat jajaran rumah yang dibangun di atas air danau dan babi babi peliharaan yang berkeliaran di sekitar pulau.

Baca juga :  Danau Paniai

Dari jajaran rumah yang kita lewati, ada jalan yang menuju ke bagian atas pulau. Di ujung jalan kita akan menemukan gereja tua dengan arsitektur sederhana dan setelah kita masuk di dalam gereja, yang menarik perhatian kita adalah bagian mimbar tidak seperti mimbar gereja pada umumnya, ada bentuk sayap dari kayu yang melekat pada mimbar.

Gereja ini sebelumnya berada di area bawah, namun pada masa Perang Dunia ke II di Sentani, Pulau Asei berada dalam jalur merah penyerangan sekutu. Dahulu warga sempat mengungsi pada saat perang bergejolak dan kemudian usai Perang Dunia ke II, gereja kembali dibangun di bagian atas Pulau Asei.

Berada di pulau ini bisa membuat kita merasakan ketenangan. Selain itu di saat senja Pulau Asei punya lokasi indah untuk menikmati sunset (matahari terbenam). Tepat dari dermaga pulau ini, kita dapat mengamati sunset dengan foreground rumah tradisional milik masyarakat yang berada di atas air, sungguh pemandangan yang sangat indah.

Jika melihat pemandangan indah seperti ini rasanya sulit membayangkan kalau area ini dahulu masuk dalam jalur merah pada saat Perang Dunia II, pastinya kita berharap tempat ini selalu damai.(az)

Kerajinan tangan - Pulau Asei
Kerajinan tangan – Pulau Asei
Kerajinan tangan - Pulau Asei
Kerajinan tangan – Pulau Asei

Leave a Reply

*

Top