You are here
Home > Berita > Ketua Dewan Adat Keerom, Serfo Tuamis secara tegas menolak 1 Mei sebagai hari Aneksasi Papua

Ketua Dewan Adat Keerom, Serfo Tuamis secara tegas menolak 1 Mei sebagai hari Aneksasi Papua

“Saya sebagai Ketua Dewan Adat Keerom , menanggapi tanggal 1 Mei sebagai Hari Aneksasi Papua menurut saya itu tidak ada dan yang bener itu 1 Mei itu tanggal kembalinya Papua ke pangkuan Indonesia dari tangan penjajah Belanda,” ujar Serfo.

Serfo menegaskan bahwa integrasi Papua ke Negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) adalah sah dan tidak bisa diganggu gugat. “Menurut saya bahasa aneksasi itu sampai sekarang masyarakat di Papua ini khususnya  masyarakat di Kabupaten  Keerom itu banyak yang tidak mengerti artinya aneksasi itu sendiri,” ujarnya.

Lanjut Serfo,  bahasa masalah aneksasi diartikan oleh para aktifis diartikan sebagai  pencaplokan wilayah Papua . “Sekarang saya mau nanya ke mereka (aktifis ) yang mereka sampaikan pencaplokan wilayah Papua itu maksudnya apa memangnya Papua ini wilayahnya siapa. Dan pencaplokan Papua itu sendiri maksudnya pencaplokan milik siapa?” Ujar Serfo dengan nada tegas.

Menurutnya ,  sudah jelas Papua ini adalah wilayah dari pada Indonesia. Sebenarnya kalau mereka pendemo itu bisa mensosialisasikan bahasa aneksasi ke masyarakat terlebih dahulu mungkin masyarakat mengerti arti dari pada bahasa aneksasi itu sendiri. ” Bicara sana sini aneksasi tapi masyarakat tidak tau maksudnya ya akhirnya ya begitu saja tidak membawa pengaruh ke masyarakat papua itu sendiri,” ujarnya.

Baca juga :  Sosialisasi Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) di Kodim 1702/JWY

Mungkin para aktifis itu menyampaikan aneksasi Papua , memangnya mereka tidak tau atau tidak mengerti Papua ini wilayah mana . “Sekarang bicara masalah bahasa pencaplokan wilayah Papua, sebenarnya Papua ini wilayah mana gimana maksudnya kan sudah jelas Papua ini adalah wilayah Indonesia yang sudah jelas  tidak bisa dipisahkan. Kemungkinan mereka mempunyai pandangan lain kalau Papua ini masih milik Belanda sehingga muncullah bahasa aneksasi itu,” ujar Serfo.

Menurutnya pribadi, dirinya kurang mengerti dan kurang faham tentang aneksasi yang disampaikan oleh para aktifis. “Saya bisa sampaikan kalau ada aktifis  yang mengatakan bahasa aneksasi sama saja mereka itu sendiri yang propokator, saya tau masyarakat Papua ini masih banyak yang bodoh tapi janganlah dibodohin permasalah bahasa. Janganlah memprofokasi masyarakat yang tidak tau apa apa , kasihan mereka nanti hanya menjadi korban saja,” ujar Serfo panjang lebar.

Leave a Reply

*

Top