You are here
Home > Tulisan > Rohani > Khutbah Jum’at : Shalat Sebagai Tiang Agama Kewajiban Bagi Seorang Muslim

Khutbah Jum’at : Shalat Sebagai Tiang Agama Kewajiban Bagi Seorang Muslim

Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya mengajak kaum Muslimin untuk selalu menambah nilai ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu dengan memperbanyak amal ibadah kita sebagai bekal untuk menghadap Illahi Rabbul Jalil, serta melaksanakan segala perintah dan meninggalkan segala laranganNya.

Tentu kita semua tahu, bahwa sholat adalah tiang agama. Namun faktanya, masih ada saja orang yang sering meninggalkan sholat meskipun sudah tahu kalau sholat merupakan tiangnya agama. Apabila suatu tiang tidak didirikan, maka akan roboh dan hancur isinya. Bukankah begitu?

Sebuah bangunan, setelah adanya pondasi yang merupakan asas sebuah bangunan berdiri, kebutuhan pokok setelah pondasi adalah tiang penyangga, penyokong, soko guru yang akan menguatkan bangunan tersebut. Apabila sebuah bangunan memiliki 5 buah pilar penyangga, maka jika salah satu dari tiang tersebut roboh maka kekuatan atau kekokohan bangunan tersebut akan berkurang. Demikian seterusnya kekokohan suatu bangunan akan terus berkurang seiring dengan hilangnya pilar-pilar penyangganya satu persatu.

Demikian pula Islam, yang ibaratnya adalah sebuah bangunan dengan syahadat sebagai pondasinya dan sholat yang merupakan cerminan syariat Islam sebagai pilar penyangganya. Bila kaum muslimin rajin mendirikan sholat yang 5 waktu secara berjamaah di masjid maka berarti mereka telah mengokohkan pilar-pilar Islam. Sebaliknya, apabila kaum muslimin malas, ogah-ogahan mendirikan sholat fardhu yang 5 waktu secara berjamaah di masjid, maka berarti mereka telah melemahkan Islam itu sendiri dengan ‘merobohkan’ pilar-pilarnya. Bila kita pandang dalam lingkup yang lebih kecil, dalam diri seseorang bisa kita lihat parameter “kekuatan” Islamnya. Apakah rajin mendirikan sholat fardhu 5 waktu secara berjamaah di masjid, menambahi dengan mendirikan sholat sunnah, atau sebaliknya dengan mengerjakan sholat fardhu 5 waktu namun tidak berjamaah dan hanya sholat sendirian di rumah, atau bahkan jarang melaksanakan sholat fardhu yang 5 waktu, atau bahkan yang paling parah ia tidak mengerjakannya sama sekali, Na’udzuu billahi min dzalik. Bahkan secara tegas dalam sebuah hadist Rasulullah disebutkan bahwa pembeda antara seorang mukmin dan kafir adalah seorang tersebut meninggalkan sholat atau tidak, yang bisa kita maknai bahwa agama Islam telah roboh dari diri seseorang tersebut bisa seorang tersebut meninggalkan sholat, terlepas dari perbedaan pendapat tentang kafir tidaknya orang tersebut.

Baca juga :  Pentingnya Doa Untuk Kita Manusia

Apalagi yang dihadapi saat ini jika kita sebagai seorang prajurit harus siap menjalankan setiap perintah yang diberikan atasannya, termasuk untuk terjun ke medan pertempuran. Namun, sebagai umat beragama mereka tentunya tidak bisa meninggalkan salat walaupun sedang menghadapi musuh.

Bedanya, prajurit tetap waspada menghadapi segala kemungkinan serangan musuh, pada rakaat pertama saf di belakangnya tetap mengawasi keadaan sekitar. Sebaliknya, rakaat kedua giliran saf kedua yang mengikuti gerakan imam salat.

Karena jika kita pahami bersama bahwa hidup bukanlah semata-mata mementingkan urusan dunia, sebab urusan ukrawi adalah lebih penting. Kehidupan dunia terbatas oleh usia dan waktu dan kelak pada saatnya kita akan kembali ke alam yang tiada terbatas waktu. Semua amal perbuatan kita selama di dunia akan diminta pertanggung jawabannya, karena amal perbuatan tersebut merupakan tabungan akhirat.

Sebagai penutup marilah kita memohon ampunan kepada Allah SWT, untuk kita semua dan seluruh kaum muslimin agar terhindar dari segala dosa. Mohon ampunan kepada-Nya, karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Leave a Reply

*

Top