You are here
Home > Tulisan > Mengatasi Insomnia (Susah Tidur)

Mengatasi Insomnia (Susah Tidur)

Selamat Siang Sahabat Ksatria Kodam XVII/Cenderawasih, dan selamat menjalankan aktifitas pada hari ini semoga tetap diberi keselamatan. Kali ini kita akan berbagi sedikit pengetahuan tentang mengatasi  susah tidur atau disebut dengan (Insomnia).

Insomnia adalah kondisi dimana seseorang mengalami kesulitan diwaktu akan  tidur atau tidak bisa tidur cukup lama, sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tubuh meski dia memiliki kesempatan untuk melakukannya. Hal tersebut menyebabkan kondisi fisik penderita insomnia menjadi tidak cukup fitm atau mampu untuk melakukan aktivitas keesokan harinya.

Tidur merupakan keadaan seseorang mengalami ketidak sadar secara alami untuk memungkinkan tubuh seseorang untuk beristirahat. Saat tidur, tubuh akan melalui siklus yang bergantian antara tidur gerakan mata cepat (Rapid Eye MovementI/REM) dan tidur non-gerakan mata cepat (non Rapid Eye Movement/ non-REM). Anda mungkin akan melalui empat atau lima siklus tidur dalam satu malam. Satu siklus tidur berlangsung kurang lebih selama 90 menit. Diawali dengan 4 tahap tidur non-REM yang terdiri dari tidur ringan hingga tidur dalam. Lalu dilanjutkan dengan tidur REM, dimana di tahap inilah proses mimpi (Bunga tidur) terjadi.

Gejala insomnia

Sulit untuk menentukan ukuran tidur normal karena kebutuhan tidur berbeda-beda bagi tiap orang. Hal tersebut dipengaruhi oleh usia, gaya hidup, lingkungan, dan pola makan. Gejala-gejala insomnia yang paling umum di antaranya:

  • Susah tidur.
  • Terbangun di malam hari atau dini hari dan tidak bisa tidur kembali.
  • Merasa lelah, uring-uringan, sulit berkonsentrasi, dan tidak bisa melakukan aktivitas secara baik pada siang harinya.
  • Tidak bisa tidur siang meskipun tubuh lelah.

Penyebab insomnia

Ada beberapa faktor penyebab insomnia yang pada akhirnya berujung kepada kondisi sulit tidur pada jangka waktu yang cukup lama. Mulai dari akibat gaya hidup dan masalah kenyamanan ruangan kamar, hingga akibat gangguan psikologi, masalah kesehatan fisik, dan efek samping obat-obatan.

Pengobatan Insomnia

Dalam mengobati insomnia, hal pertama yang dilakukan oleh dokter adalah mencari tahu apa yang menjadi akar penyebabnya. Jika insomnia didasari oleh kebiasaan tertentu, maka dokter akan menyarankan pasien untuk mengubah kebiasaannya itu. Misalnya menyarankan untuk tidak mengonsumsi minuman berkafein, merokok, dan minuman keras saat menjelang tidur. Selain itu, dokter akan menyarankan anjuran waktu tidur dan bangun tiap harinya secara disiplin. Terakhir, pasien akan disarankan untuk tidak melakukan tidur siang.

Jika insomnia disebabkan oleh suatu masalah kesehatan, maka dokter akan terlebih dahulu mengatasi kondisi yang mendasari tersebut dan tentunya dengan langkah penanganan yang disesuaikan. Agar tidak menimbulkan efek samping yang dapat memperparah insomnia.

Baca juga :  Tips Menghilangkan Embun Pada Kacamata Renang Dan Selam

Jika pasien tetap mengalami insomnia meski telah memperbaiki pola hidup, maka dokter biasanya akan menyarankan pasien mengikuti terapi perilaku kognitif khusus untuk insomnia (CBT-I). Bahkan jika diperlukan, dokter dapat meresepkan obat tidur.

Mengatasi insomnia dengan obat tidur

Obat tidur biasanya hanya digunakan dokter sebagai pilihan terakhir, yaitu ketika insomnia sudah tidak lagi bisa diatasi dengan perubahan pola hidup dan terapi kognitif dilakukan ketika tingkat keparahan insomnia sudah tinggi.

Obat tidur umumnya di berikan resep dengan dosis serendah mungkin, dengan jangka waktu sesingkat mungkin. Jadi artinya, penggunaan obat tidur sifatnya hanya sementara. Dokter biasanya akan enggan memberkan resep obat tidur dalam jangka panjang, karena hal tersebut tetap tidak akan mampu mengatasi penyebab insomnia.

Untuk insomnia yang menyebabkan penderitanya mengalami kelelahan, stres berat, atau terbangun tiba-tiba dimalam hari, dokter dapat memberikan resep zopiclone atau zolpidem. Biasanya kedua obat tidur ini diberikan dengan dosis serendah mungkin dalam jangka waktu maksimal satu bulan. Baik zopiclone maupun zolpidem memiliki efek samping berupa mulut terasa kering, sakit kepala, mual, atau muntah.

Untuk insomnia yang penderitanya mengalami kesulitan memulai tidur, dokter dapat meresepkan zaleplon. Efek samping umum dari penggunaan obat ini adalah kesemutan, nyeri saat menstruasi pada wanita, dan hilang ingatan jangka pendek. Zaleplon biasanya diresepkan dalam jangka waktu maksimal setengah bulan dengan dosis serendah mungkin.

Jika penderita insomnia mengalami rasa cemas atau stres berat, dokter dapat meresepkan golongan obat penenang seperti benzodiazepin agar penderita menjadi rileks dan dapat tidur dengan lelap.

Selain dapat menyebabkan ketergantungan, kadang-kadang reaksi kantuk obat tidur bisa berlanjut hingga keesokan harinya, terutama pada orang tua. Karena itu bagi Anda yang memiliki rutinitas sibuk dan suka membawa kendaraan sendiri, hendaknya tanyakan kepada dokter agar obat tidur yang diberikan bisa disesuaikan dengan kondisi Anda.

Itu adalah beberapa pengetahuan tentang Insomnia dan pencegahannya, semoga bermanfaat, sekian dan terima kasih.(arm/cen)

Sumber http://www.alodokter.com/

 

Leave a Reply

*

Top