You are here
Home > Sisi Lain > Sastra > Nasib Papua, Ada di Pundakmu Nak!!! Pesan Sang Kakek itu untuk Pemuda Papua

Nasib Papua, Ada di Pundakmu Nak!!! Pesan Sang Kakek itu untuk Pemuda Papua

Alkisah, seorang pemuda sedang termenung menatap ketenangan dan jernihnya air danau Sentani, Jayapura-Papua. Sesekali, ia melihat riakan air tertata indah dikarenakan tiupan angin yang menerpa. Tatapannya seolah kosong, namun pikirannya bekelana jauh menyelami makna dan arti kehidupan yang telah, sedang dan akan dilaluinya.

Dalam lamunannya, ia teringat nasehat dan pesan penting yang diamanatkan oleh kakeknya. “Jang (Jangan) kow (kau) pernah mengeluh nak, senantiasa perbaikilah dirimu. Segera siapkanlah dirimu untuk kehidupanmu sendiri. Jang pernah kow bermalas-malasan, karena ada tugas dan tanggungjawab yang jauh lebih besar, yang harus kow emban. Nasib keluargamu, Papuamu dan negeri Indonesiamu, terletak di pundakmu nak !!!”, begitulah kira-kira pesan kakeknya yang sedang ia renungi dalam pikirannya.

Nasehat dan pesan tersebut, senantiasa ia ingat. Nasehat dan pesan tersebut, juga senantiasa menjadi motivasi yang membuatnya selalu berpacu dalam semangat, menghadapi semua masalah dan rintangan kehidupan yang dilaluinya.

Tidak ada masalah yang besar, yang ada hanyalah masalah yang senantiasa dibesar-besarkan. Besar dan kecil suatu masalah bersifat relatif, semua tergantung yang menatapnya. Ketika kita menuangkan sesendok garam ke dalam secangkir air, tentunya air tersebut akan menjadi terasa sangat asin. Namun, bila kita menuangkannya ke dalam luasnya air danau, sesendok garam tersebut tidaklah memberi pengaruh apa-apa. Airnya akan tetap tawar sebagaimana sebelumnya. Begitupun dengan masalah dalam kehidupan ini. Bagi pemuda itu, semuanya tergantung sejauh mana ia menyiapkan keluasan hati dan kelapangan dadanya. Baginya, sekecil apapun masalah akan sangat terasa berat, apabila hati dan pikiran yang dimilikinya begitu sempit. Namun, begitu pula sebaliknya. Baginya, sebesar apapun masalah tidak akan berarti apa-apa bila dihadapi dengan hati dan dada yang lapang.

Papuaku, apa yang telah aku berikan padamu. Indonesiaku, apa yang telah aku sumbangkan untukmu., dua pertanyaan tersebut, kini muncul dalam pikiran pemuda itu di tengah segarnya terpaan angin danau Sentani yang menghampirinya.

Pertanyaan dalam lamunan Albert Dimara tersebut, seolah senada dengan sebuah pepatah yang mungkin sering kita dengar dari salah satu mantan presiden Amerika John F. Kennedy, “Jangan tanyakan apa yang telah negara berikan kepadamu, tapi tanyakanlah apa yang telah engkau sumbangkan untuk bangsamu”.

Begitu besar tatapan dalam kehidupannya. Bagi Albert, Papua adalah tanah kelahiran yang selalu dibanggakannya. Mungkin masih ada sedikit orang berpandangan rendah terhadap Papua, namun tidak baginya. Dalam tatapannya, pandangan seperti itu adalah pandangan yang salah besar. Pandangan itu, hanya muncul dari orang yang memandang Papua dengan sebelah mata.

Bagi Albert, Papua memang tidak semegah Jakarta, Bandung atau kota-kota besar lainnya, namun hal itu bukan berarti bahwa kota-kota megah itu pasti lebih baik dari tanah kelahirannya.

Bagi Albert, orang Papua memang tidak seputih kulit dan selurus rambut saudara-saudaranya dari wilayah barat dan tengah Indonesia, namun hal itu bukan berarti menunjukkan bahwa orang Papua pasti tidak lebih baik dari mereka. Kulit hitam dan rambut keriting merupakan anugerah dari Tuhan yang patut kita syukuri dan kita banggakan sebagai insan yang beragama. Di hadapanNya, sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling banyak beribadah kepadaNya. Dengan demikian, bisa saja dibalik hitam kulit dan keriting rambutnya orang Papua tersebut, justru tersimpan hati yang lebih putih dan pikiran yang lebih jernih.

Baca juga :  Tanah Surga Khatulistiwa

Sebagaimana suatu permasalahan bersifat relatif tergantung siapa yang memandangnya, begitupun dengan hal ini. Mana yang lebih baik antara Papua dengan Jakarta, mana yang lebih baik antara orang Papua dengan saudara sebangsa yang lainnya, semuanya bersifat relatif. Baik tidaknya sesuatu, tergantung siapa yang memandang dan apa yang dijadikan objek dalam penilaiannya. Misalnya , dalam hal kemegahan kota. Papua mungkin belum semegah kota-kota besar di Indonesia, namun Papua memiliki kemegahan yang lain dengan kekayaan dan keasrian alam yang dimilkinya. Selain itu, dalam hal kemegahan kota ini, Papua kini juga sedang pesat-pesatnya melaksankan pembangunan. Berbagai hotel, pusat perbelanjaan, dan gedung-gedung tinggipun sedang banyak dibangun di Papua. Sehingga, bukan hal yang mustahil Papua akan segera semegah kota lainnya. Begitupun dalam hal-hal lainnya, mungkin banyak hal yang dimiliki oleh wilayah lainnya yang tidak dimilki Papua, namun perlu diingat pula bahwa banyak hal yang dimilki Papua, yang mungkin tidak dimiliki oleh wilayah-wilayah lainnya tersebut. Begitulah, setiap wilayah di negeri ini memang pasti memiliki kelebihannya masing-masing. Semuanya saling melengkapi satu sama lain dan menjadi sesuatu yang patut kita banggakan.

Dalam keheningan lamunan kesendiriannya di danau Sentani tersebut, sang pemuda itu telah meluaskan pandangannya untuk Papua sebagai tanah kelahirannya dan Indonesia sebagai negerinya. Dalam tenangnya air dan segarnya udara yang dihirupnya, ia telah meluaskan pandangannya memikirkan hal-hal yang besar untuk bangsanya. Begitulah sedikit kisah tentang Albert Dimara, salah seorang pemuda Papua yang sedang memaknai arti kehidupannya, dalam sebuah renungan di danau Sentani Jayapura. Betapa luas pemikiran dan pandangannya, betapa tinggi dan luar biasa jiwa ke-Papuaan dan kenasionalismeannya.

“Jang (Jangan) kow (kau) pernah mengeluh nak, senantiasa perbaikilah dirimu. Segera siapkanlah dirimu untuk kehidupanmu sendiri. Jang pernah kow bermalas-malasan, karena ada tugas dan tanggungjawab yang jauh lebih besar, yang harus kow emban. Nasib keluargamu, Papuamu dan negeri Indonesiamu, terletak di pundakmu nak !!!”

Wahai pemuda Papuaku, lihat dan perhatikanlah baik-baik pesan sang kakek kita itu. Nasib Papua kita, Indonesia kita, berada di atas pundak kita semua. Orang tua – orang tua kita telah renta, kini sudah saatnya giliran kita untuk menggantikan peran mereka. Wahai pemuda Papuaku, marilah kita segera bangkitkan jiwa dan raga kita, untuk kesejahteraan tanah kelahiran negeri kita. Mari kita siapkan pundak sekuat mungkin untuk kemajuan  Papua seperti pesan sang kakek itu. (Kisah sastraIb/Cen)

Leave a Reply

*

Top