You are here
Home > Pengetahuan > Referensi > PERANG DAN KEMBANG

PERANG DAN KEMBANG

JUDUL                            :    PERANG DAN KEMBANG
PENULIS                        :    ASAHAN ALHAM
KATEGORI                     :    NOVEL DAN CERITA
PENERBIT                     :    PUSTAKA JAYA
TAHUN TERBIT             :    2011
CETAKAN PERTAMA    :    2011
ISBN                               :    979-419-255-4
TEBAL BUKU                :    353 HALAMAN
JENIS KERTAS             :    KERTAS BURAM
COVER                          :    SOFT COVER
DIMENSI                        :    13 x 19 CM

PENGARANG
Perang dan Kembang adalah sebuah Novel buah karya adik kandung D.N Aidit, Asahan Aidit, yang  kemudian berganti nama menjadi Asahan Alham. Seperti halnya Utuy Tatang sontani, Asahan Alham juga tak dapat kembali ke Indonesia akibat pecah peristiwa berdarah G30 S/PKI. Ironisnya, Asahan Alham sama sekali tidak terkait dengan PKI, ia hanya dibebani hubungan darah keluarga Aidit. Asahan Alham banyak berdiam di Vietnam, negeri yang menjadi latar belakang novelnya. selain itu ia juga merantau kebeberapa negara Eropa. Yang kemudian Pada tahun 1984 menjadi eskil di negeri Belanda dan kemudian menjadi warga negara Belanda dengan nama keluarga Alham.

UNSUR INTRINSIK
Tema yang tersirat dalam novel perang dan kembang ini tak lain adalah “kisah perjuangan dalam mengarungi kehidupan disaat perang serta percintaan”. Hal itu dapat dibuktikan dari penceritaan perkalimatnya dimana penulis berusaha menggambarkan kisah kehidupan nya disaat terbengkalai karena perang yang ditimbulkan oleh suatu negara yang tak ada sangkut paut nya dengan negara lain dan rakyat mereka. Mungkin juga aku yang anak melayu yang terlempar ke negeri ini akibat sangkut paut negeri ini. Nasibku sekarang bagaikan seorang yang merdeka tetapi tidak merdeka.

LATAR
Dalam novel ini disebutkan latarnya yaitu di Negara Vietnam, Hanoi dan Hai Pong. Waktu yang digunakan pagi, siang, sore, dan malam. Latar nuansanya lebih berbau melayu dan gejolak remaja di saat terjadi peperangan.

ALUR
Dalam novel ini menggunakan alur yang berlanjut setiap ceritanya. Alur maju pengarang menceritakan dari mulai kejadian mulai dari awal  sampai dengan akhir .

GAYA BAHASA
Gaya bahasa novel ini sangat sempurna. Yaitu inspirasi dalam setiap kata-kata dan kelembutan bahasa puitis berpadu dengan tidak membosankan. Setiap katanya mengandung kekayaan bahasa sekaligus makna tersirat dibalik tiap katanya. Selain itu, Novel ini ditulis dengan gaya realita tersebut.
Bertabur bahasa metafora, penyampaian cerita yang cerdas dan menyentuh, penuh inspirasi dan imajinasi. Novel yang banyak mengandung unsur intelegensi yang kuat sehingga pembaca tanpa disadari masuk dalam kisah dan karakter-karakter yang ada dalam novel Perang dan Kembang.

AMANAT
Amanat yang disampaikan dalam Perang dan Kembang adalah di tengah-tengah kehidupan menghadapi perjuangan, ditengah kebobrokan sistim komunisme yang tidak menghormati manusia sebagai pribadi yang baik.

SUDUT PANDANG
Sudut pandang novel ini yaitu dimana penulis memposisikan dirinya sebagai tokoh Kim dalam cerita.

UNSUR EKSTRINSIK

Baca juga :  Resensi Film "Luntang-lantung"

NILAI MORAL
Nilai moral pada novel ini sangat kental. Sifat-sifat yang tergambar menunjukkan rasa humanis dan militan diri seorang remaja tanggung dalam menyikapi kerasnya kehidupan. Di sini, tokoh utama digambarkan sebagai sosok remaja yang mempunyai hubungan emosional terhadap negara nya.

NILAI SOSIAL
Ditinjau dari nilai sosialnya, novel ini begitu kaya akan nilai sosial. Hal itu dibuktikan rasa setia kawan yang begitu tinggi antara tokoh Kim, Lien, Anh Lam, Hong dan Mai Lan. Masing-masing saling mendukung dan membantu antara satu dengan yang lain dalam mewujudkan impian-impian mereka sekalipun hampir mencapai batas kemustahilan. Dengan didasari  hubungan percintaan pada setiap tokohnya dalam keadaan kekurangan.

NILAI ADAT ISTIADAT
Nilai adat disini juga begitu kental terasa. Adat kebiasaan pada perayanan tradisional yang masih dijunjung tinggi seperti perayaan Hari Raya Tahun Baru Tet mengharuskan siswanya mencium tangan kepada gurunya, ataupun mata pencaharian warga yang sangat keras dan kasar yaitu sebagai kuli tambang timah tergambar jelas di novel ini. Sehingga menambah khazanah budaya.

KELEBIHAN DAN KELEMAHAN

1) KELEBIHAN

Banyak kelebihan-kelebihan yang didapatkan dalam novel ini. Mulai dari gaya bahasa Melayu hingga kekuatan alur yang dapat mengajak pembaca masuk dalam cerita hingga merasakan tiap paragraf yang disajikan secara sempurna. Hal ini tak lepas dari kecerdasan penulis memainkan imajinasi pola fikir yang dituangkan dengan bahasa-bahasa intelektual yang berkelas. Penulis juga menjelaskan tiap detail latar yang membackgroundni adegan demi adegan, sehingga pembaca selalu menantikan dan menerka-nerka setiap hal yang akan terjadi. Selain itu, kelebihan lain dari pada novel ini yaitu kepandaian Andrea dalam mengeksplorasi karakter-karakter sehingga kesuksesan pembawaan yang melekat dalam karakter tersebut begitu kuat.

2) KELEMAHAN

Pada dasarnya novel ini hampir tidak ada kelemahan. Hal itu disebabkan karena penulis dengan cerdas dan apik merangkai kata demi kata sesaui luapan perasaan yang menceritakan curahan perasaannya. Menggambarkan rentetan alur, deskripsi setting, dan eksplorasi kekuatan karakter. Baik ditinjau dari segi kebahasaan hingga sensasi yang dirasakan pembaca sepanjang cerita, novel ini dinilai cukup untuk mengobati keinginan pembaca yang haus akan novel yang bermutu.

Sinopsis :
Perasaan cinta yang harus di jalani ketika perang terjadi menghujam negaranya menjadi porak poranda. Semakin dilarang kedua pihak saling mencari. Terlalu banyak yang di campurtangani oleh politik dan penguasa.
Ditengah perjuangan rakyat Vietnam menghadapi serangan negara adikuasa Amerika (yang kemudaian dapat dikalahkannya),seorang melayu yang pernah berpasport Indonesia yang terlibat di dalamnya. Bukan hanya dalam kegiatan tentara militan rakyat  (walaupun dalam seksi penghibur), melainkan juga dalam berbagai petualangan asmara dalam masyarakat sosial menjadi urusur para penguasa.
Dengan selingan kunjungan sang tokoh ke Cina negara sosial yang lain, pengarang dengan tajam menganalisis kebobrokan sistem komunisme yang tidak menghormati manusia sebagai pribadi-pribadi yang mulia.

(Oleh : Wiku)

Leave a Reply

*

Top