You are here
Home > Pengetahuan > Militer > Raider Pasukan Elit TNI AD

Raider Pasukan Elit TNI AD

Pasukan Raider adalah pasukan elit infanteri Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) dengan kualifikasi pasukan khusus yang menekankan kepada kemampuan Reaksi Cepat Senyap Tepat dalam menanggulangi musuh, dengan senjata minimal, perang berlarut di hutan, Perang Jarak Dekat, Operasi Raid Rala Suntai (Rawa, Laut, Sungai dan Pantai) dan pengintaian. Pasukan ini digerakkan dalam regu yang berjumlah 10 orang. Komposisinya mirip 1 regu Infanteri reguler hanya saja ditambah dengan ahli raid / demolisi.

Sebagai kekuatan penindak, kekuatan satu batalyon raider (yonif/raider) setara 3x lipat kekuatan satu batalyon infanteri (Yonif) biasa di TNI Angkatan Darat. Prajurit Raider TNI AD dikenal akrab di kalangan TNI sejak Tahun 60-an, berawal dari munculnya tehnik tempur dan struktur organisasi infanteri modern, yang dulu dikenal dengan nama IFGABA (Infanteri Gaya Baru) di TNI AD, yang pada saat itu berpatokan pada pelatihan dan struktur organisasi US ARMY RANGER.

Pada awal mulanya materi pendidikan Raider hanya ditujukan untuk Batalyon Linud KOSTRAD. Campuran kualifikasi Raider dan Para sehingga menghasilkan jenis keahlian tempur baru yaitu PARA RAIDER. Keahlian tempur ini sangat cocok dengan tipe Prajurit KOSRAD yang dikenal Keras dan cepat dalam setiap pertempuran, dan saat di ujicoba pertama kali kepada personel batalyon infanteri 401 hasilnya sangat mengejetkuan dalam setiap operasi menunjukka peningkatan yang sangat berarti bagi daya tempur pasukan. Maka setelah melalui berbagai inovasi, pendidikan Raider mulai diadopsi oleh pasukan KOSRAD untuk melengkapi spesifikasi pasukan Lintas Udara (Linud). Karena dinilai sangat bermanfaat unutk meningkatkan spesifikasi prajurit maka pada akhirnya kualifikasi RAIDER mulai disebarkan kepada satuan Infanteri maupun satuan Bantuan Tempur KOSRAD pada tahun 1967 hingga 1970.

Maka itu di bentuklah Batalyon Infanteri Raider yang merupakan salah satu jenis pasukan khusus yang ada dalam TNI AD, dan berada dalam 2 Komando yaitu KOTAMA BALA PUSAT (KOSTRAD) dan KOMANDO TERITORIAL (KODAM) di seluruh Indonesia. Prajurit Raider menempati hirarki tertinggi di ruang lingkup Komando Teritorial atau KOTAMA yang menaunginya.

New Raider merupakan Hasil dari pembentukan 8 Batalyon Infanteri Kodam dan 2 batalyon Infanteri KOSTRAD, Skill dan kemampuan para Prajurit dari 10 Yonif itu ditingkatkan menjadi 3x lipat dari sebelumnya, Itu berarti sama dengan kemampuan 1 batalyon Raider setara dengan 3 Batalyon Infanteri reguler. Kemampuan bertempur Raider juga lebih Cepat karena mereka memiliki Kualifikasi Air Assault (Mobil Udara).

Struktur Organisasi Raider sendiri terdapat pada 8 Kodam dan 2 Devisi Kostrad “Berdiri Sendiri” (BS), namun mereka bisa bergerak langsung atas perintah Panglima TNI tanpa menunggu perintah komando atasnya.

Setiap Batalyon Raider terdiri dari 5 kompi yaitu : 3 kompi senapan, 1 kompi bantuan dan 1 kompi markas. Di kompi Markas terbagi atas : 1 peleton komunikasi, 1 peleton pionir dan munisi, 1 peleton kesehatan dan 1 peleton angkutan, sedangkan di Kompi Senapan terdiri dari : 3 peleton regu senapan, 1 peleton regu bantuan, 1 Peleton  Komando Kompi, dan di kompi Bantuan terdiri atas : 1 Peleton mortir, 1 peleton Senjata Mesin Sedang dan 1 peleton senjata lawan tank.

Seluruh prajurit raider berkualifikasi Mobud dengan komposisi 90% adalah kombatan. 1 unit langsung dibawah Danyon yaitu unit Gultor berjumlah 50 orang. Unit ini adalah prajurit pilihan dari setiap kompi senapan, bantuan dan markas. Tugasnya memberangus para teroris yang membuat masalah keamanan di wilayah Raiders. Mereka dilatih langsung oleh para instruktur dari SAT 81 Gultor Kopassus yang mempunyai kualifikasi para alias terjun payung (airborne). Maka dari itu, hampir semua operator Gultor Raider juga mengenyam Sekolah Para di Batu Jajar (Tempat Pendidikan Kopassus).

Karakteristik Prajujrit raider adalah sbb:
Dari Segi Mental

  • Memiliki emosi stabil dan kesadaran tinggi
  • Lulus tes Psikologi dan IQ
  • Bertaqwa kepada Tuhan YME

Fisik

  • Prajurit infanteri / kecabangan lain (khusus) dan tidak boleh berkacamata
  • Umur maksimal 33 tahun
  • Push Up 70 kali (dalam 2 menit)
  • Sit Up 70 kali (dalam 2 menit)
  • Pull up 10 kali
  • Lari 2 Mil (dalam waktu 15 menit)
  • Renang Militer
  • Renang gaya bebas

Kemiliteran

  • Menguasai ilmu dasar kemiliteran
  • Dapat menggunakan senjata serbu per orangan / peralatan tempur dengan baik
  • Mempunyai kualifikasi Infanteri (Tahap II).
Baca juga :  Cara Remote Laptop Dengan Hp Android

Saat ini, Secara resmi Raider hanya merekrut anggota barunya dari prajurit infanteri atau kecabangan lain (Korps CKM, CHB atau CKU) yang berdinas aktif di satuan Komando kewilayahan daerah tersebut. Namun saat ini ada pula unit Raider Gultor yang dimiliki MAKOSTRAD. Dan sampai saat ini Raider adalah pasukan khusus dengan personel terbanyak di dunia.

Pelatihan Raider Modern berlangsung selama 7 bulan. Mereka menempuh pendidikan dengan tangan dingin para pelatih Raider Kopassus yang dikenal ber standar tinggi, fair sekaligus bisa menjadi galak luar biasa ketika siswa melakukan kesalahan. Itu karena siswa harus menyadari hakekat tugas Raider yang memang berat dan sudah di depan mata. Melipat gandakan kemampuan prajurit menjadi 3x lipat bukanlah hal mudah semudah membalik telapak tangan.

Tahap latihan Prajurit Raiders meliputi :

  • Tahap I (Basis) : Dasar Raider dan Indokrinasi. Para calon digojlok dengan latihan fisik standart Kopassus, uji mental dan psikologi. Dasar tehnik patroli khusus.
  • Tahap II (Gunung Hutan) : Jungle Warfare, Jungle Survival, Patroli tempur lanjut, PJD, lempar pisau, tehnik serangan udara dan air support dengan heli (Mobud), BDM,anti gerilya, renang militer, renang rintis dan renang ponco, lari 3 km dlm 13 menit, raid dan kamp tawanan.

Dari Tahap II ke Tahap III harus Long March 250 km selama 7 hari 7 malam dan berhenti di titik titik yang ditentukan untuk menghadapi ujian dari pelatih. Yang tidak lulus dinyatakan gugur dan harus mengulang periode berikutnya.

  • Tahap III (Kelautan) : Rala suntai (Rawa, sungai, laut dan pantai) Raid amfibi,pendaratan laut senyap,penyerbuan pantai, parimeter pantai, patroli pantai dan uji raid.
  • Tahap IV (Berganda) : Ujian semua materi yang telah didapat dalam studi kasus dipadu dengan operasi mobud (Mobil Udara).

Setelah semua materi dan ujian ditempuh maka resmilah pasukan ini menjadi “The Raiders”. Seorang Prajurit Raider berhak atas baret hijau tua Raider, seragam PDL sus (Loreng TNI – Malvinas bermotif Pixel) Raider yang disebut ACUPAT (Army Combat Uniform Pattern), serta badge Raider berlambang pisau petir plus badge mobud di lengan PDH / PDL sebelah kanan, Brevet Raider (brevet Yudha Wastu Pramukha tidak dipakai lagi), brevet menembak, brevet Mobud Raider. Terdapat brevet mobud kecil yang dipasang pada baret Raider itu sebagai tanda bahwa mereka adalah pasukan mobud (Mobil Udara). Bagi personel Raider Gultor juga berhak menyandang wing para dasar dan penanggulangan teror TNI AD. Tim Gultor Raider diajarkan juga cara bertempur dengan jarak dekat mengunakan senjata MP 5 yang terkenal itu.

Raider sebagai salah satu dari pasukan khusus TNI AD memang diciptakan sebagai pasukan pemukul TNI AD. Dengan kapasitas itu Raider dikenal sebagai “Ranger-nya” TNI AD. Karena pasukan ini bisa digunakan sebagai pasukan pelindung dari pasukan inti yang bertugas misalnya Kopassus. Namun bukan berarti Raider adalah pasukan khusus kelas 2. Justru disitulah peran pentingnya Raider. Karena mereka bergerak bisa dalam gerakan peleton. Sedang Kopassus maksimal memakai gerakan regu dengan tugas individual tersendiri bagi tiap anggota regu, dalam operasi mobud dan operasi tempur berlarut mereka memainkan peran utama. Heli Bell dan Heli Serbu Mi-35 terbaru milik Penerbad selalu menemani pasukan elit berbaret hijau tua berlambang pisau dan petir ini. Metode operasi mobud yang juga dianut 101 Air Assault Division US Army ini menekankan drooping serangan langsung di belakang garis pertahanan musuh melalui heli. Tehnik serangan ini adalah pengembangan penyerangan airborne model baru tanpa parasut yang disebut “Helicopterborne
TNI AD sebagai angkatan terbesar dalam TNI selalu berusaha meningkatkan kualitas para prajurit khususnya ditengah minimnya dana untuk TNI. Dengan tingkat anggaran yang tidak terlalu besar namun dirasa jauh dari cukup, dengan maksimal TNI AD selalu meng up date kemampuan operator pasukan khusus sesuai dengan kebutuhan TNI dalam menjaga kedaulatan Republik Indonesia.

Leave a Reply

*

Top