You are here
Home > Pengetahuan > Referensi > Rekonstruksi Makna Puasa Dalam Al-Qur’an

Rekonstruksi Makna Puasa Dalam Al-Qur’an

Judul              : Tafsir Sastrawi: Menelusuri Makna Puasa dalam Al-Qur’an

Penulis          : Wali Ramadhani S.Th.I

Penerbit        : Mizan

Cetakan        : Pertama, Mei 2014

Tebal              : 176 Halaman

ISBN               : 978-602-1337-13-4

 

Al-Qur’an dan sastra ibarat dua sisi koin, eksistensi keduanya saling menopang. Hal yang sama antara al-Qur’an dan tafsir laksana dua sejoli yang tidak bisa terpisahkan. Keduanya, ibarat sebuah pintu dan kunci. Keindahan al-Qur’an sangat tampak tatkala komposisi sastrawi melekat di setiap lekuk hurufnya. Ia bukan kitab sastra tetapi nuansa sastra menjadi sebuah keniscayaan, dan menjadi sebuah keharusan seorang pemerhati dan pengkaji al-Qur’an menguasai sastra Arab.

Al-Qur’an diwahyukan dalam situasi kesejarahan yang konkrit. Ketika seluruh manusia di dominasi perebutan kekuasaan, al-Qur’an merekonstruksi pola pikir mereka. Begitu juga, tatkala para sastrawan di masa itu saling mengungulkan kehebatan olah bahasa, al-Qur’an hadir sebagai bentuk kritikan kepada mereka dan mereka satu persatu mengakui bahwa kitab suci Qur’an nuansa sastranya tak tertandingi.

Amin al-Khulli – istri dari seorang penggiat sastra Mesir A’isyah bintu Syathi’ – mengatakan bahwa Qur’an sebagai kitab sastra Arab terbesar. Karenanya, Wali Ramadhani dalam bukuTafsir Sastrawi “Menelusuri Makna Puasa dalam Al-Qur’an”, mencoba menguji dan memakai kerangka berpikir Amin al-Khulli dengan menggabungkan metode maudhu’I atau tematik dengan corak penafsiran sastra, dan tema yang dibahas dalam buku ini yakni puasa.

Embrio corak penafsiran al-Qur’an dengan kacamata sastra sudah ada sejak era Nabi Muhammad Saw sebelum Amin al-Khulli membumingkan teori penafsiran, misalnya dikenal Ubay ibn Hatim, Abdullah ibn Abbas, Mujahid ibn Jabbar, Hasan al-Basri, Ata ibn Abi Rabbah, Qatadah, al-Suddi al-Kabir, Ibnu Juraij, Muqatil ibn Sulaiman, Sufyan al-Stauri, Abu Ubaida al-Musanna dan Yahya Ibn Ziyad al-Farra (Halaman 25).

Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang setiap tahunnya kita lakukan, komunikasi dan gaya penyajian serta cara Tuhan mewajibkan hambanya berpuasa memiliki keunikan tersendiri. Puasa dalam rekaman sejarah peradaban Islam telah mengakar sejak zaman Nabi Adam, pada saat itu Nabi Adam berpuasa selama tiga hari setiap bulan sepanjang tahun.

Nabi Nuh berpuasa selama tiga hari selama sepanjang tahun sembari mewajibkan kepada umatnya. Nabi Ibrahim seorang yang gemar berpuasa, Nabi Yusuf berpuasa saat dalam penjara, Nabi Yunus berpuasa selama di dalam perut ikan, Nabi Ayyub, Nabi Syu’aib, Nabi Ilyas berpuasa selama 40 malam ketika ingin pergi ke Gunung Horeb. Nabi Daud sehari puasa dan sehari lagi tidak (alias selang-seling). Nabi Isa berpuasa selama 40 hari (Halaman 39).

Pesan puasa sampai kepada Nabi Muhammad, tepatnya pada bulan Sya’ban tahun 2 Hijriah saat Nabi Muhammad sudah beraktifitas dakwah di Madinah. Dan Nabi Muhammad telah melakukan puasa sebanyak sembilan kali ramadhan sebelum wafat.

Baca juga :  Sekilas Tentang Film Doea Tanda Cinta

Dua metode yang digunakan oleh Wali Ramadhan dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an tentang puasa, yaitu metode dirasah ma haula al-Qur’an (kajian seputar Qur’an) dan dirasah ma fi al-Qur’an (kajian mengenai Qur’an itu sendiri). Keduanya dikaji untuk diterapkan pada tiga ayat tentang puasa yaitu Qs. Al-Baqarah ayat 183, 184 dan 185 yang cukup populer di kalangan masyarakat.

Dalam mewajibkan puasa, al-Qur’an menggunakan dan memakai kata kutiba dan tidak furida. Substansi kosakata keduanya sama tetapi Qur’an memakai kata kutiba untuk menggambarkan bahwa hakikat puasa telah melekat dalam jiwa manusia. Amin al-Khulli menegaskan bahwa kata kutiba dalam Qs. Al-Baqarah ayat 183 mengindikasikan bahwa puasa sangat berat dilakukan.

Keterkaitan atau munasabah antar ayat dalam kasus ini sangat unik, pada ayat 183 Tuhan mewajibkan seluruh kaum beriman untuk berpuasa, pada ayat 184 Tuhan memberikan keringanan dalam berpuasa, dan pada ayat 185 Tuhan membatasi waktu puasa – yang diwajibkan – hanya pada bulan Ramadhan saja.

Jika kita selama ini memiliki pola pikir bahwa fungsi puasa untuk menahan haus dan lapar, maka akan dibantah oleh Amin al-Khulli. Ia mengatakan bahwasanya rasa lapar juga tidak memberikan andil yang begitu besar dalam ibadah-ibadah yang diwajibkan, seperti shalat justru membutuhkan semangat dan kegigihan (Halaman 145).

Amin Al-Khulli mencoba memaknai proses pendidikan puasa yang diwajibkan Tuhan – yang efeknya tidak saja terasa dan kita lakukan pada bulan Ramadhan tetapi berimbas kepada kehidupan sehari-hari kita. Ia mencoba menafsirkan puasa sebagai proses menahan diri dari segala nafsu, keinginan yang berlebihan, pikiran-pikiran buruk dan sesuatu yang merusak jiwa seseorang.

Dampak terpenting dalam proses pendidikan yaitu aspek psikologis dan sosial. Aspek psikologis mengembalikan manusia pada hakikatnya dan aspek sosial sebagai solusi atas berbagai permasalahan yang terjadi pada seseorang. Buku ini sangat bagus dijadikan referensi untuk mengetahui seluk beluk puasa dalam corak sastra, hal ini penting karena polarisasi antara kajian tekstual dan kontekstual sangat terasa dan kental dalam buku ini. Dikutip dari (islamnusantara.web.id)

Admin 1
IT Network Engineering di Infolahtadam XVII/Cenderawasih
http://youtube.com/anggayudistira

Leave a Reply

*

Top