You are here
Home > Pengetahuan > Referensi > Resensi Film : Soekarno

Resensi Film : Soekarno

Judul Resensi                      : Action

Judul Film                            : Soekarno

Sutradara                             : Hanung Bramantyo

Editing                                  : Cesa David Luckmansyah

Rumah Produksi                  :

Tahun pembuatan                : Pertama 2013

Durasi                                  : 150 minutes

Siapa tidak mengenal figur seorang Soekarno sebagai Presiden pertama Republik Indonesia sekaligus bapak proklamator kemerdekaan negara ini. Sesoknya sangat dikenal di tanah air bahkan seluruh dunia. Sepak terjangnya sebagai Presiden Republik Indonesia pertama, dan kepiawaiannya dalam kancah politik dunia internasional, menjadi spirit baru bagi negara-negara Asia-Afrika di masa lalu untuk merdeka.

Kawan maupun lawan dibuat segan oleh pandangan-pandangannya. Sederet pujian dan anugerah disematkan pada diri Sukarno ke dalam berbagai manifestasi. Kemerdekaan Indonesia kemudian menjadi inspirasi negara-negara di Asia-Afrika untuk membebaskan diri dari kolonialisme dan imperialisme. Apalagi ketika Indonesia mengadakan Konferensi Asia-Afrika yang menegaskan posisinya sebagai pemimpin Gerakan Non-Blok, Soekarno tampil sebagai tokoh besar dalam sejarah.

Kisahnya banyak dihubungkan dengan mitologis, padahal sebagai bagian sejarah seharusnya dilandasi fakta dan data. Film ini berupaya menampilkan sisi-sisi kehidupan bapak Proklamator dengan cara seobyektif mungkin.

Film yang menceritakan semangat nasionalisme ini diawali dengan mengajak penonton untuk berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya secara bersama-sama. Hal ini semakin mengingatkan kita sebagai bagian dari jati diri bangsa yang menghargai dan mencintai bangsa Indonesia yang besar ini.

Film ini dibuat dengan urutan kronologis beralur maju. Hanya sedikit di bagian awal film yang sempat flash-back ke masa kecil Soekarno saat masih bernama Kusno, termasuk prosesi pergantian namanya menjadi Soekarno. Untuk kemudian alurnya terus maju hingga ke akhir film.

Cerita Soekarno dimulai ketika Soekarno (Ario Bayu) bersama dengan istrinya, Inggrit Ganarsih (Maudy Koesnaedi), dibuang oleh pihak Belanda ke Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur dan ke Provinsi Bengkulu akibat pledoinya tentang kemerdekaan Indonesia yang dikenal dengan sebutan ‘Indonesia Menggugat’ dianggap mengancam keberadaan Belanda di Indonesia. Di Bengkulu, Soekarno istirahat sejenak dari keriuhan dunia politik dan menghabiskan waktunya dengan mengajar para pemuda di provinsi tersebut. Meskipun telah memiliki istri, Soekarno tidak dapat menghindarkan hatinya dari rasa suka terhadap salah satu muridnya, Fatmawati (Tika Bravani). Hal ini jelas kemudian menghasilkan kemelut dalam rumah tangga Soekarno dan istrinya. Di tengah kemelut tersebut, Jepang kemudian berhasil menggeser posisi Belanda dan menduduki tanah Indonesia. Oleh Jepang, Soekarno kemudian dibebaskan dari masa pembuangannya. Ia lantas memilih untuk kembali ke dunia politik dan secara perlahan menyusun rencana untuk mengejar kemerdekaan dari negara yang begitu dicintainya.

Baca juga :  Rekonstruksi Makna Puasa Dalam Al-Qur’an

Pada awalnya, Soekarno bersikap sangat permisif terhadap kedatangan pihak Jepang di Indonesia, sebuah sikap yang ditentang oleh dua lawan politiknya, Mohammad Hatta (Lukman Sardi) dan Sutan Syahrir (Tanta Ginting). Hatta dan Syahrir bahkan mengingatkan Soekarno bahwa pendudukan Jepang tidak akan kalah bengisnya dengan penjajahan Belanda. Namun, Soekarno sendiri beragumen bahwa Indonesia harus mampu memanfaatkan keberadaan Jepang untuk merebut kemerdekaan mereka sendiri, sebuah argumen yang kemudian berhasil memenangkan hati Hatta. Meskipun banyak dicemooh oleh kelompok pemuda progresif karena dinilai terlalu lemah terhadap Jepang, keyakinan Soekarno dan Hatta tidaklah goyah. Bersama Hatta, Soekarno berupaya mewujudkan cita-citanya mewujudkan kemeredekaan Indonesia.

Ceritanya sendiri seperti ‘buku sejarah’ belaka, di mana penggambaran mengenai kehidupan Soekarno terkait dengan masa perjuangan pra-kemerdekaan Indonesia. Adegan dimulai dengan situasi di tahun 1934 saat serdadu marsose pemerintah kolonial Belanda Dutch East Indies menangkap Soekarno dan beberapa rekannya yang tengah berada di rumah Ketua PNI (Partai Nasional Indonesia) Jawa Tengah, dokter Sujudi.

Hadirnya banyak konflik dalam jalan cerita pada film Soekarno dalam durasi 150 menit ini jelas menumbuhkan banyaknya kehadiran karakter-karakter dalam jumlah yang cukup besar. Sayangnya, karakter-karakter yang muncul dalam alur penceritaan Soekarno tersebut seringkali hadir tanpa porsi maupun peran penceritaan yang berarti, termasuk beberapa karakter dengan bagian penceritaan yang sebenarnya cukup potensial untuk dikembangkan dengan lebih baik, seperti karakter Mohammad Hatta maupun dua karakter istri Soekarno, Inggrit Ganarsih dan Fatmawati.

Jika saja naskah cerita Soekarno dapat tertata dengan lebih sederhana dan efektif, mungkin banyak pemeran film ini yang akan dapat memberikan penampilan yang lebih kuat  dan tentunya durasi film ini juga akan hadir jauh lebih singkat.

Admin 1
IT Network Engineering di Infolahtadam XVII/Cenderawasih
http://youtube.com/anggayudistira

One thought on “Resensi Film : Soekarno

  1. Wah saya sudah pernah nonton nih film, mmg sangat bagus sekali gk cukup klo cuman nonton 1 x saja

Leave a Reply

*

Top