You are here
Home > Dari Media Lain > RS Marthen Indey Sukses Operasi Pasien TBC Tulang Belakang

RS Marthen Indey Sukses Operasi Pasien TBC Tulang Belakang

Jayapura – Untuk kesekian kalinya, RS Marthen Indey menggelar operasi perdana dengan pasien orang asli Papua. Pada operasi yang dilakukan minggu (30/3) tim medis yang dipimpin dr. Herianto Manihuruk Sp.OP, dr Achmad Ramdan Sp.OT dan dokter spesialis anastesi, Kapten Ckm dr. Benny Aldrin Tampubolon, Sp, An ini sukses melakukan operasi terhadap pasien asal Pegunungan Bintang yang menderita TBC Tulang Belakang.

Untuk memastikan proses operasi berlangsung lancar, pihak rumah sakit akhirnya mendatangkan seorang konsultan khusus tulang belakang dari rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. “Kami mendatangkan seorang konsultan khusus tulang belakang dan setelah mengikuti operasi beliau akan kembali langsung ke Bandung.” kata Kepala Rumah Sakit Marthen Indey, Kolonel Ckm dr Budiono di ruang kerjanya.

Dikatakan, pasien asal Pegunungan Bintang yang bekerja di Kabupaten Jayapura ini masih tergolong berusia muda yaitu 21 tahun namun karena penyakit TBC tulang belakang yang terus menggerogoti akhirnya membuat tubuh pasien tersebut terlihat bungkuk dan ada tulang belakang yang menonjol. Untung bisa segera ditemukan dan langsung dilakukan penanganan segera.

“Bila tak segera dioperasi maka dampaknya adalah bisa merusak tulang belakang (keropos) dan tubuh semakin membongkok bahkan parahnya bisa menyebabkan kelumpuhan,” jelas Budiono.

Sementara dr Herianto menjelaskan bahwa sejatinya TBC tulang ini tak hanya bisa menyerang tulang belakang tetapi bagian tulang yang paling sering diserang adalah jaringan tulang lunak, di area tulang panggul, lutut, dan khususnya tulang belakang yang memang dekat dengan paru-paru.

Kuman biasanya akan menyerang dengan kekuatan penuh disaat daya tahan tubuh anda sedang lemah. Saat menyerang, kuman akan membentuk lapisan pada tulang yang menyebabkan tulang tak bisa dialiri darah. Akibatnya tulang menjadi keropos atau bahkan menjadi rusak.

Kerusakan pada tulang akibat serangan kuman TBC seringkali tak menimbulkan gejala yang sangat mirip dengan rematik. Inilah yang akhirnya membuat kebanyakan orang tak mewaspadai adanya masalah yang lebih serius dan hanya menganggap apa yang dirasakan adalah rematik. Padahal untuk memastikan harus dilakukan beberapa tes seperti rontgen, tes darah, hingga biopsi.

Baca juga :  DPRP Berikan Apresiasi Kepada TNI/Polri di Puja

Ancaman dari penyakit ini kata Herianto adalah mengurangi anggota gerak tubuh lainnya. Penyebabnya sendiri dikatakan berawal dari kuman TBC yang terbawa oleh udara dan masuk ke paru-paru. Dari paru-paru ini jika tak tertangani segera maka akan masuk kepembuluh darah hingga menyerang organ tubuh lainnya termasuk tulang belakang.

Karenanya dalam operasi yang dilakukan selama kurang lebih 5 jam ini tulang belakang pasien tersebut dibersihkan dan dipasang implan agar tulang yang rusak bisa tumbuh kembali. “ tingkat kesulitan dalam operasi ini adalah ada zona syaraf pusat dan sumsum tulang yang sensitif sehingga tingkat kehati-hatiannya lebih tinggi. Disamping itu tulang ini juga bertaqnggungjawab atas fungsi motorik dan sensorik karenanya jika tak segera diobati maka bisa terjadi kelumpuhan,”katanya.

Pasca operasi kata Herianto, nantinya pasien masih harus melakukan proses therapy payung selama 6 bulan dengan pemberian obat anti tuberkoluse (OAT) yang harus dikonsumsi selama 1 tahun.

Dalam memngkonsumsi obat ini harus sendiri harus disiplin sebab jika tidak maka akan terjadi drug resintance atau kuman menjadi kebal terhadap obat.

Sekedar diketahui TBC tidak hanya menyeerang orang dewasa tetapi bisa juga menyerang bayi. “selama lingkungan dan kuman TBC tak terus menyebar maka potensi menularnya tetap ada, tapi yang perlu diketahui adalah TBC bisa disembuhkan selama ada upaya untuk mau berobat,” kata Karumkit, Budiono.

Sumber : Koran Cenderawasih Pos, 01 april 2014

 

Admin 1
IT Network Engineering di Infolahtadam XVII/Cenderawasih
http://youtube.com/anggayudistira

Leave a Reply

*

Top