You are here
Home > Tulisan > Rohani > Sejarah Hari Raya Galungan

Sejarah Hari Raya Galungan

Hari ini seluruh umat agama hindu merayakan hari Raya Galungan. Kemarin mereka merayakan Penampahan Galungan. Penampahan galungan sendiri umumnya ialah kegiatan menyiapkan perayaan Galungan dengan memotong hewan seperti ayam dan babi untuk pesta perayaan Galungan. Pengertian itu sesungguhnya suatu pemahaman yang sangat awam, namun hal itulah yang jauh lebih mentradisi daripada arti sesungguhnya Penampahan Galungan itu.

Penampahan Galungan dalam wujud ritual dirayakan dengan upacara Natab Sesayut Penampahan atau disebut dengan Sesayut Pamyak Kala Laramelaradan. Makna dari prosesi ritual ini adalah untuk mengingatkan umat agar membangun kekuatan Wiweka Jnyana atau membangun kekuatan diri untuk mampu membeda-bedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang patut dan mana yang tidak patut.

Kata Galungan berasal dari bahasa Jawa Kuno yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan Dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis.

Secara filosofis, Hari Raya Galungan dimaksudkan agar umat Hindu mampu membedakan dorongan hidup antara adharma dan budhi atma (dharma = kebenaran) di dalam diri manusia itu sendiri. Kebahagiaan bisa diraih tatkala memiliki kemampuan untuk menguasai kebenaran.

Dilihat dari sisi upacara, adalah sebagai momen umat Hindu untuk mengingatkan baik secara spiritual maupun ritual agar selalu melawan adharma dan menegakkan dharma. Bisa disimpulkan bahwa inti Galungan ialah menyatukan kekuatan rohani agar umat Hindu mendapat pendirian serta pikiran yang terang, yang merupakan wujud dharma dalam diri manusia.

Baca juga :  Tingkatkan Keyakinan dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Munculnya perayaan hari raya galungan ini dikisahkan seorang asura bernama Mayadenawa adalah bakta Siva yang sangat tekun, dengan memuja Siva, ia memohon kekuatan agar mampu melakukan perubahan wujud. Dewa Siva berkenan muncul dan mengabulkan keinginannya.

Pada akhirnya Mayadenawa menjadi sangat sakti dan mampu melakukan perubahan wujud hingga seribu kali perubahan. Dengan kemampuan itulah raksasa ini menjadi sombong dan menguasai daerah Bali dan sekitarnya, saat itu tidak ada yang mampu untuk mengalahkanya. Ahirnya Dewa Indra turun ke bumi dan melakukan pertarungan dengan Mayadenawa.

Pertarungan berlangsung sengit hingga membuat Dewa Indra mengeluarkan bajra. Singkat cerita raksasa Mayadenawa akhirnya gugur dalam pertarungan tersebut. Kemenangan Dewa Indra melawan raksasa Mayadenawa inilah yang dikenal sebagai Hari Raya Galungan. Sehingga pada hakikat Galungan adalah perayaan menangnya dharma melawan adharma.

Penulis mengucapkan Om Swastyastu,,,,, Rahajeng nyanggra Rainan Galungan,,,,,, Om Shanti Shanti Om,,,,,,,

sumber: hindualukta.blogspot.co.id

Admin 1
IT Network Engineering di Infolahtadam XVII/Cenderawasih
http://youtube.com/anggayudistira

Leave a Reply

*

Top