You are here
Home > Pengetahuan > Militer > Sejarah Terjun Payung

Sejarah Terjun Payung

Perlu kita ketahui bahwa sejarah penerjunan payung merupakan media atau sarana yang sangat berpotensi mendukung suatau gerak laju pergerakan pasukan terlebih disaat berada di medan pertempuran, namun penerjunan payung tidak serta merta langsung diperoleh oleh parjurit-prajurit Lintas Udara di seluruh Dunia. Kini kita akan membahas awal mula sejarah perkembangan penerjunan.

Dahulu sebelum ditemukannya peralatan, telah terpikir untuk melakukan penejunan namun pada saat itu tidak dapat dilaksanakan karena belum ada peralatan yang memadai dan dikhawatirkan jika dilakukan penerjunan akan memciderai seseorang yang melakukan penerjunan.

Terjun pada awal mulanya dirancang oleh seorang pelukis bernama Leonardo Da Vinci di abad ke-15 pada tahun1495 dengan membuat rancangan berupa sketsa yang menggambarkan perlengkapan untuk melakukan terjun payung. Namun sayangnya, rancangan konsep peralatan terjun payung itu pun belum pernah diuji cobakan dan Parasutnya pun berbentuk segitiga.

Untuk itu melalui tangan dan kemampuan seorang Fausto Veranzio di tahun 1617, dia menjadi manusia pertama yang menemukan perlengkapan penerjunan yang kemudian diaplikasikannya dengan melakukan penerjunan dari sebuah menara di Venesia, Italia, dan mendarat dengan selamat menggunakan alat yang mirip parasut tersebut.

Konsep parasut yang dibangun dituangkan dalam sebuah karyanya dalam sebuah buku yang berjudul Machinae Nova. Buku yang diterbitkan pada tahun 1595 di Venesia ini memuat 40 sketsa rancangan mesin dan peralatan terjun payung. Beberapa dari sketsa itu ada terdapat gambaran aksi manusia melakukan terjun payung dengan menggunakan parasut berbentuk segi empat.

Sedangkan penerjunan yang dilakukan dari benda terbang baru dapat dilaksanakan untuk pertama kalinya sekitar tahun 1797, yaitu oleh Andre Jacques Garrnerin di Paris, Perancis, dari sebuah balon udara.

Seiring perkembangan zaman dan sebagai pemenuhan untuk mendukung laju pergerakan Pasukan Militer, maka Penerjun payung (paratrooper) menjadi sarat mutlak yang dibutuhkan dalam misi operasi pertempuran. Untuk itu maka diperlukan tentara yang dilatih secara khusus dalam pengoperasian parasut serta memiliki kemampuan terjun payung.

Baca juga :  Dan SU-35 Pun Akan Nyata Di Depan Mata

Para prajurit terjun payung ini dapat menembus medan perang di belakang garis musuh karena bisa diterjunkan langsung dari pesawat. Dalam sejarah peperangan yang melibatkan kekuatan udara, telah banyak tercatat misi-misi gemilang yang berhasil dilakukan oleh penerjun payung.

Konsep penerjunan menggunakan parasut untuk mendaratkan tentara di daerah tertentu bersifat sangat fleksibel dan umumnya didaratkan dalam kelompok kecil untuk kemudian secara cepat menjalankan misi yang diperintahkan.

Pasukan terjun payung yang diterjunkan di belakang garis pertahanan musuh berpotensi mengeksploitasi kelemahan musuh sekaligus melakukan misi awal sebelum kekuatan yang lebih besar melakukan serangan langsung.

Pasukan terjun payung juga bisa digunakan untuk memata-matai wilayah musuh atau menyediakan cadangan pasukan yang diperlukan di daerah-daerah yang sulit dijangkau melalui darat. Pasukan Parasut juga mengembangkan parasut dan teknik rigging untuk menjatuhkan peralatan yang dibutuhkan ke medan perang.

Saat ini, dengan teknik rigging yang makin canggih, dimungkinkan untuk menjatuhkan kendaraan dan senjata berat ke tanah bersama dengan persediaan untuk pengungsi dan objek lainnya.

Rigging untuk benda berat membutuhkan keahlian khusus untuk memastikan objek tidak rusak selama penerjunan serta memastikan bahwa mereka jatuh di tempat yang tepat. Untuk memenuhi syarat sebagai pasukan penerjun payung, seorang prajurit mengalami pelatihan reguler dan kemudian menerima pelatihan terjun payung khusus.

Pelatihan memuat berbagai hal seperti teknik skydiving yang tepat, menggunakan parasut khusus yang digunakan dalam paratrooping, dan tentang teknik untuk tetap berada dalam formasi ketika terjun dalam kelompok besar.

Leave a Reply

*

Top