You are here
Home > Tulisan > Rohani > Tidak Penting Apapun Agamamu atau Sukumu, Kalau Kamu Bisa Melakukan Sesuatu yang Baik untuk Semua Orang, Orang Tidak Akan Tanya Apa Agamamu !

Tidak Penting Apapun Agamamu atau Sukumu, Kalau Kamu Bisa Melakukan Sesuatu yang Baik untuk Semua Orang, Orang Tidak Akan Tanya Apa Agamamu !

(Mengenang Presiden ke-4 Indonesia – K.H. Abdurrahman Wahid)

Hidup beragama, berarti hidup dalam keselarasan. Hidup tanpa agama, berarti hidup dalam kekacauan. Mungkin tidak terlalu asing, secara etimologi kita sudah mengenal bahwa kata agama tersusun dari dua kata yang berasal dari bahasa sansekerta, yakni “a” yang berarti tidak dan “gama” yang berarti kacau. Dengan demikian, secara arti kata dasar, makna dari agama adalah “tidak kacau”. Dengan demikian pula, secara filosofis mungkin kita dapat memberikan makna terhadap arti kehidupan beragama, bahwa ia adalah kehidupan yang diinginkan manusia dan Tuhan, agar manusia senantiasa berada dalam kehidupan yang dipenuhi dengan keteraturan, keselarasan dan keharmonisan.

Namun sayangnya, tak dapat dipungkiri bahwa dalam negeri kita yang notabene sudah mewajibkan setiap penduduknya untuk beragama, kini kehidupan di dalamnya belum sepenuhnya berjalan secara harmonis. Berbagai kekacauan berupa tindakan kriminal, penganiayaan, korupsi hingga konflik bermotifkan agama sekalipun, masih saja kerap terdengar di telinga kita. Aneh, namun demikianlah adanya. Seharusnya, sesuai dengan makna kehidupan beragama yang sudah dituliskan dalam paragraf sebelumnya, kehidupan Indonesia sebagai negara beragama ini, sudah selayaknya dipenuhi dengan keselarasan dan keharmonisan.

Siapakah yang salah dengan semua itu? Patut dipertanyakan, apakah agama-agama yang diizinkan dan dianut oleh warga Indonesia mulai dari Sumatera hingga Papua mengajarkan demikian? Yakni apakah agama yang telah mengajarkan para penganutnya untuk melakukan tindakan kriminal, penganiayaan, korupsi hingga pemaksaan dalam beragama?

Penulis yakin, tidak satupun dari kita akan ada yang menjawab iya. Penulis yakin, kita semua meyakini bahwa semua agama mengajarkan kebaikan, terutama dalam hal kehidupan bersosial, walaupun tentu adanya perbedaan di antara agama tersebut adalah sesuatu yang niscaya. Namun setidaknya, tidak akan ada di antara kita yang berani mengatakan bahwa tindakan kriminal, penganiayaan, korupsi, pembunuhan hingga pemaksaan dalam beragama adalah salah satu bagian yang diajarkan oleh agama yang diijinkan di negeri ini.

 

Ajaran toleransi dalam beragama.

Dalam Islam, dikenal dengan istilah “Rahmatan li al‘alamiin” yang bermakna bahwa Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam. Selain itu, dalam Islam dikenal juga istilah “Laa ikroha fii ad-diin”, yang bermakna bahwa dalam Islam diajarkan untuk tidak melakukan pemaksaan dalam beragama. Mungkin masih banyak lagi istilah serupa, namun dua istilah tersebut dirasa sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang mengajarkan kehidupan bertoleransi dan kasih sayang. Istilah rahmat bagi seluruh alam bermakna bahwa Islam merupakan agama yang mengajarkan cinta kasih kepada segala sesuatu, baik kepada sesama manusia ataupun kepada alam, baik kepada sesama muslim ataupun kepada nonmuslim.

Selanjutnya dalam agama Kristenpun demikian, baik Khatolik ataupun Protestan. Dalam agama Kristen sudah tidak asing lagi dengan istilah “cinta kasih” yang diajarkannya. Dalam ajarannya, Kristen mengajarkan untuk saling mencintai dan mengasihi terhadap sesama, sekalipun ia adalah orang asing. Dalam beberapa ayat kitab sucinya telah termuat mengenai hal ini, misalnya ayat yang berbunyi “Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang percaya, di mana engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang asing (3 Yohanes 1 : 5). Di dalam kitab yang lainnya, terdapat pula ayat yang berbunyi “37. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. 39. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. 40. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan Kitab para nabi(Matius 22 : 37-40). Demikianlah agama Kristen mengajarkan penganutnya untuk mencintai dan mengasihi semua manusia, baik yang seiman ataupun tidak.

Selanjutnya, dalam agama Hindu. Dalam ajarannya, dikenal dengan konsep Tri Hita Karana, yakni sebuah konsep bahwa agama hindu mengajarkan keharmonisan dan kerukunan. Konsep Tri Hita Karana mengajarkan keharmonisan parahyangan yang bermakna keharmonisan vertikal ( manusia dengan Tuhan ), pawongan yang bermakna keharmonisan horizontal ( manusia dengan manusia ) dan palemahan yang bermakna keharmonisan diagonal ( manusia dengan lingkungan ). Dengan konsep Tri Hita Karana sudah sangat jelas dan gamblang bahwa agama hindu sangat menekankan akan pentingnya arti toleransi. Belum lagi apabila kita mau memperhatikan kitab weda sebagai kitab suci agama hindu. Di dalamnya terdapat banyak sabda yang mengajarkan kerukunan. Sebagai contoh, dalam weda misalnya terdapat sebuah sabda yang berbunyi, “Wahai umat manusia ! Milikilah perhatian yang sama, tumbuhkan saling pengertian diantara kamu. Dengan demikian engkau dapat mewujudkan kerukunan dan kesatuan (Reg Weda X 191.4).

Selanjutnya dalam agama Budha. Sebagaimana agama-agama lainnya yang mengajarkan hidup kerukunan beragama, Budha pun sangat mengajarkan dan menekankan pentingnya hal ini. Untuk membuktikannya, cukup kiranya penulis kutipkan salah satu ajaran moral yang diajarkan di dalam maklumat Raja Ashoka, salah seorang raja dalam sejarah peradaban India. Ia merupakan tokoh penting sebagai penganut dan penyebar agama budha di masanya, tentunya setelah ia melalui kehidupan hitam di masa kelamnya. Maklumat tersebut berbunyi, “Jangan membanggakan agamanya sendiri, jangan mencela ajaran agama orang lain tanpa alasan yang jelas. Dan jika memang ada alasan untuk mengkritik, haruslah dilakukan secara lembut. Tetapi tetap saja lebih baik untuk menghargai ajaran agama lain oleh karena alasan tadi. Dengan melakukan hal ini, akan memberi keuntungan bagi agama orang itu sendiri dan begitu pula bagi ajaran agama orang lain, dan berbuat yang sebaliknya bakal merugikan agama orang itu dan agama orang lainnya. Siapapun yang membanggakan ajaran agamanya sendiri, oleh karena keyakinan yang fanatik, dan menghina yang lain dengan pemikiran saya mengagungkan agama saya hanya akan merugikan agamanya sendiri. Oleh sebab itu, kerukunanlah yang dianjurkan, dengan pengertian bahwa semua orang hendaknya mendengarkan ajaran-ajaran agamanya dan bersedia juga mendengarkan ajaran-ajaran yang dianut orang lain”. Demikianlah maklumat Raja Ashoka sebagai salah seorang penganut Budha. Apabila maklumat dari penganutnya saja sudah demikian, terlebih dengan ajaran Budhanya itu sendiri.

Baca juga :  Manfaat dan Hikmah Al Quran

Terakhir, dalam agama Khonghucu. Tidak berbeda dengan yang lain, agama Khonghucu pun tentu saja mengajarkan para penganutnya untuk hidup rukun dengan sipapun. Dalam ajarannya, salah satunya dikenal mengenai ajaran lima sifat mulia (Wu Chang), yang dipandang sebagai konsep ajaran yang dapat menciptakan kehidupan harmonis antara sesama. Kelima poin tersebut yakni : “1. Ren/Jin, cinta kasih, tabu diri, halus budi pekerti, rasa tenggang rasa serta dapat menyelami perasaan orang lain. 2. I/Gi, yaitu rasa solidaritas, senasib sepenanggungan dan rasa membela kebenaran. 3.Li atau Lee, yaitu sikap sopan santun, tata krama, dan budi pekerti. 4.Ce atau Ti, yaitu sikap bijaksana, rasa pengertian, dan kearifan. 5.Sin, yaitu kepercayaan, rasa untuk dapat dipercaya oleh orang lain serta dapat memegang janji dan menepatinya.

 

Marilah berbuat baik, sesuai yang diajarkan agama kita !

Patut kita bersyukur, kini kita hidup dalam sebuah negeri yang beragama. Dengan penuh kearifan, para pendahulu bangsa telah menyusun dan mewariskan kepada kita semua ide dan pemikiran yang penuh dengan makna. Bukan suatu kebetulan, semua itu merupakan buah pengalaman mereka dalam menyelami hitam dan putih kehidupan.

Tidak penting apapun agamamu atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan tanya apa agamamu ”. Begitulah salah satu  pepatah yang terlontar dari salah seorang tokoh yang fenomenal dalam sejarah negeri ini, K.H. Abdurrahman Wahid yang mungkin lebih dikenal dengan sapaan Gus Dur. Beliau dikenal dengan gaya bicaranya yang asal ceplos, namun ternyata dari setiap keceplosannya membuahkan nasehat-nasehat yang syarat akan makna.

Melalui pernyataannya tersebut, Gus Dur ingin menyampaikan pesan kepada kita semua untuk senantiasa berbuat baik kepada siapapun, di manapun dan kapanpun. Sekalipun beliau terlahir sebagai salah satu tokoh Islam di negeri ini, namun pernyataannya tersebut bersifat global dan ditujukan kepada penganut semua agama. Berbuat baik dan bertoleransi atas perbedaan, merupakan fitrawi manusia. Tidak akan ada satu agamapun yang menyelisihi keharusan kita berbuat baik, karena agama memang diturunkan Tuhan justru sebagai rahmatNya yang sesuai dengan fitrah manusia. Misalnya, kita sebagai manusia tidak suka diganggu, begitulah agama mengajarkan kita untuk tidak mengganggu siapapun. Kita sebagai manusia menyukai orang yang bijaksana dan menghargai kita, begitupun agama mengajarkan kita untuk hidup bijaksana menghargai orang lain. Dengan demikian, tak salah memang apa yang disampaikan oleh beliau (Gus Dur). Dengan berbuat baik, orang lainpun tidak perlu menanyakan apa agama kita.

Indonesia terlahir sebagai bangsa yang majemuk, sebagai bangsa yang kaya akan perbedaan. Dalam kemajemukan Indonesia ini, di dalamnya tentu saja mencakup perbedaan perihal beragama. Undang-undang telah mengatur dan menjamin kebebasan bagi kita untuk menganut agama yang sudah diijinkan. Untuk itu, sudah selayaknya kita sebagai manusia yang secara fitrawi senang dihargai dan tidak suka diganggu, untuk menghargai dan tidak mengganggu hak siapapun dalam menganut agama yang diyakininya. Selain itu, hal tersebut memang sudah selayaknya pula kita lakukan karena memang demikianlah yang diajarkan oleh agama kita.

Bila di Sumatera, Jawa dan beberapa pulau lainnya Islam merupakan agama yang dianut oleh mayoritas penduduknya, ingatlah di beberapa wilayah lainnya bahwa penduduk muslim bersifat minoritas. Begitu juga dengan wilayah-wilayah yang mayoritas penduduknya beragama hindu seperti di Bali dan wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Kristen seperti di Ambon dan Papua, harus ingat bahwa di wilayah lainnya masih banyak saudaranya yang seagama hidup sebagai minoritas. Marilah kita beragama, dengan menjalankan semua nilai-nilai luhur yang memang diajarkan oleh agama kita. (Ib/Cen)

Leave a Reply

*

Top