PAHLAWAN NASIONAL DARI PAPUA (Dulu : Irian Jaya)

Thursday, December 12th, 2013 @ 3:31PM

Provinsi Irian Jaya merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terletak di bagian Timur wilayah Indonesia, saat ini menjadi provinsi Papua dan Papua Barat.  Pada tanggal 19 November 1969 melalui Resolusi PBB No. 2504 Papua secara resmi menjadi bagian dari NKRI.

Ketika Irian Barat masih dikuasai oleh Belanda, masyarakat bersatu padu untuk merebut kembali tanah Papua dari tangan penjajah, dimana para tokoh telah berjuang membebaskan pulau paling timur ini bersatu dengan Republik Indonesia. Putra daerah yang turut berjuang merebut kembali Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi Bangsa Indonesia telah mendapat gelar dari pemerintah Republik Indonesia sebagai Pahlawan Nasional. Adapun putra daerah yang ikut berjuang dan mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional antara lain :

 

 

1. Silas Papare.

Pahlawan Papua

Beliau dilahirkan pada tanggal 18 Desember 1918 di Serui, Irian Jaya. Ia telah berjuang untuk mempengaruhi masyarakat agar bersatu merebut kembali tanah Papua dari tangan penjajah dan telah bergabung dalam Batalyon Papua pada bulan Desember 1945 untuk melancarkan pemberontakan terhadap Belanda yang menjajah tanah Papua. Pada bulan Nopember 1946, ia membentuk Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII), kemudian pada bulan Oktober 1949, ia juga membentuk Badan Perjuangan Irian (BPI) dengan tujuan untuk membantu pemerintah Indonesia membebaskan Irian Barat dari tangan Belanda sekaligus menyatukannya dengan NKRI.

Pada tanggal 15 Agustus 1962 Silas Papare terlibat sebagai anggota delegasi RI dalam penandatanganan Persetujuan New York antara Indonesia dan Belanda, kemudian pada tanggal 1 Mei 1963, Irian Barat pun resmi menjadi wilayah Republik Indonesia. Tak lama kemudian silas meninggal dunia di tanah kelahirannya di Serui pada tanggal 7 Maret 1978.

2. Frans Kaisiepo.

Pahlawan Papua

Frans Kaisiepo diangkat sebagai Pahlawan Nasional karena telah berjuang sejak masa-masa kemerdekaan RI dengan semangat kemerdekaan, ia sangat teguh menyatakan gagasannya bahwa Papua merupakan bagian dari Nusantara, menjadikan dirinya “dipinggirkan” oleh pemerintah Belanda. Ia merupakan putra daerah yang dilahirkan di daerah Wardo, Biak pada tanggal 10 Oktober 1921, ia mengikuti kursus Pamong Praja di Jayapura, salah satu gurunya bernama Soegoro Atmoprasodjo, mantan guru di Taman Siswa Yogyakarta.

Frans telah membentuk berdirinya Partai Indonesia Merdeka (PIM) di Biak. Frans juga terlibat sebagai anggota delegasi Papua (Nederlands Nieuw Guinea), pada saat itu ia membahas tentang pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) dalam Republik Indonesia Serikat (RIS), dimana pada saat itu Belanda memasukkan Papua dalam NIT. Di hadapan konferensi, Frans Kaisiepo memperkenalkan nama “Irian” sebagai pengganti nama “Nederlands Nieuw Guinea”, yang secara historis dan politik merupakan bagian integral dari Nusantara Indonesia (Hindia-Belanda).

Pada tanggal 4 Agustus 1969 melalui beberapa konfrontasi yang pada akhirnya dilaksanakan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) , Frans sangat berperan dalam pelaksanaan Pepera, karena pada masa itu Frans menjabat sebagai Gubernur Papua.  Dan hasil dari Pepera adalah masyarakat Papua dengan suara bulat tetap bergabung dengan Indonesia.

3. Marthen Indey.

Pahlawan Papua

Marthen Indey dilahirkan di Doromena, Jayapura pada tanggal 16 Maret 1912. Sebelumnya, ia merupakan polisi Belanda yang kemudian berbalik mendukung Indonesia setelah bertemu dengan beberapa tahanan politik yang diasingkan di Digul, salah satunya adalah Sugoro Atmoprasojo. Pada tahun 1946, Marthen bergabung dengan sebuah organisasi politik bernama Komite Indonesia Merdeka (KIM) yang kemudian dikenal dengan sebutan Partai Indonesia Merdeka (PIM).

Pada tahun 1962 Marthen bergerilya untuk menyelamatkan anggota RPKAD yang didaratkan di Papua selama masa Tri Komando Rakyat (Trikora). Di tahun yang sama, Marthen menyampaikan Piagam Kota Baru yang berisi mengenai keinginan kuat penduduk Papua untuk tetap setia pada wilayah kesatuan Indonesia.

Berkat jasanya, Marthen diangkat sebagai anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) sejak tahun 1963 hingga 1968. Tak hanya itu, ia juga diangkat sebagai kontrolir diperbantukan pada Residen Jayapura dan berpangkat Mayor Tituler selama dua puluh tahun. Marthen meninggal pada usia 74 tahun tepatnya pada tanggal 17 Juli 1986.

4.  Johannes Abraham Dimara (J.A.Dimara).

Pahlawan Papua

Pahlawan nasional Johanes Abraham Dimara lahir di desa Korem Biak Utara pada tanggal 16 April 1916. Ia adalah putra dari Kepala Kampung Wiliam Dimara. Dimara membantu perjuangan RI. Sempat ditangkap dan dipenjara bersama para pejuang Indonesia lainnya. Tahun 1949, setelah penyerahan kedaulatan, bergabung dengan Batalyon Patimura APRIS dan ikut dalam penumpasan RMS.

Dimara adalah salah seorang pejuang yang ikut dalam pembebasan Irian Barat. Dirinya adalah anggota OPI (Organisasi Pembebasan Irian Barat). Pada tanggal 20 Oktober 2000 di Jakarta , Johanes Dimara tutup usia.

Untuk meneruskan perjuangan para pahlawan yang telah berhasil merebut tanah Papua dari tangan penjajah Belanda, mari kita bersatu padu untuk memajukan tanah Papua menjadi tanah yang aman, damai dan sejahtera. Membantu pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan, ketentraman lahir dan batin secara dinamis. Dimana pemerintah telah membuat mekanisme baru pengelolaan pembangunan yang terencana baik jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek yang menitikberatkan pada program prioritas utama yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan dan insfratruktur. (Prd/Cend).

 

Sumber : http://www.pusakaindonesia.org/pahlawan-nasional-dari-irian-papua/

Diposting oleh
Kategori: Artikel

Belum ada komentar. Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
Berikan Komentar

 
google-site-verification: google210fd23ed6c95ab4.html