You are here
Home > Dari Media Lain > Yakyu, Desa Perbatasan RI-PNG Di Selatan Papua

Yakyu, Desa Perbatasan RI-PNG Di Selatan Papua

HUT RI ke 71 juga diperingati warga dusun Yakyu, kampung Rawa Biru, Distrik Sota, Kab. Merauke. Dusun Yakyu terbentuk sekitar 2010, dusun yang saat ini dihuni 23 kepala keluarga merupakan salah satu daerah terisolir di Selatan Papua dan berada diperbatasan RI-PNG (Republik Indonesia-Papua New Guinea) yaitu sekitar 1,2 Km dari patok tapal batas RI-PNG.

Tahun lalu menjelang perayaan HUT RI ke-70, di dusun ini terjadi penurunan bendera merah putih yang dilakukan oleh tentara PNG, tindakan oknum tentara PNG tersebut sempat menjadi perhatian pemerintah pusat yang langsung menurunkan tim.

Untuk mencapai dusun Yakyu ini, memerlukan waktu beberapa jam dari Merauke dan dari Merauke ke kampung Rawa Biru, perjalanan darat ditempuh menggunakan sepeda motot atau kendaraan roda empat dengan waktu tempuh 1 sampai 1,5 jam.

Dari kampung Rawa Biru, perjalanan dilanjutkan menggunakan perahu ketingting menyusuri Rawa Biru yang memakan waktu 2 sampai 3 jam, menurut Dansatgas Yonif 407/PK (Komandan Satuan Tugas Batalyon Infanteri 407/PK) yang sudah tiba di dusun Yakyu, Letkol Inf Abi Kusnianto mengatakan, “Daerah ini cukup terisolir, karena untuk sampai kesini hanya menggunakan perahu ketingting dari kampung Rawa Biru”.

Meski berada ditengah hutan, dusun Yakyu merupakan dusun yang sangat bersih dan tertata rapi, demikian juga bevak yang menjadi tempat tinggal warga juga tertata rapi dan halamannya sangat bersih, disamping kiri dan kanan bevak nampak kebun dengan tanaman ubi kayu maupun keladi tumbuh di dalamnya.

“Setiap pagi kalau mereka bangun, pertama yang dilakukan adalah membersihkan halaman mereka, dan jika ada kotoran hewan langsung ditutup menggunakan tanah” ungkap Abi Kusnianto. Masyarakat dusun Yakyu sangat tergantung dengan alam disekitar mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, warga menanam ubi dan keladi serta berburu di hutan.

Baca juga :  Anggota Pramuka diharap Bisa Atasi Persoalan Bangsa

“Kita pelan-pelan merubah mindset atau cara pandang mereka untuk tidak terus tergantung pada alam karena apa yang tersedia  di alam ini sangat terbatas, sehingga kita harus menanam dan memelihara tanam yang bisa memberi kehidupan kita”, ucap Abi Kusnianto.

Warga yang tinggal di dusun Yakyu sebelumnya berada di negara tetangga PNG, menurut kepala dusun Yakyu Mr. Raily Baiyau M, selama berpulu-puluh tahun tinggal di PNG, dan kehidupan mereka dibatasi. Saat itu mereka sempat berpindah tempat namun rumah mereka dibakar, oleh sebab itu mereka memutuskan kembali ke tanah air dan mulai menempati dusun Yakyu sekitar 2010.

“Kami berupaya untuk kembali ke Indonesia, kampung halaman kami, jadi ini rumah kami (Indonesia) sendiri” ucap Railly yang masih terbata-bata menggunakan bahasa Indonesia.

Kendati tidak ada fasilitas kesehatan dan sekolah untuk anak-anak mereka, namun Railly bersama warganya merasa tenang dan aman karena sudah berada di rumah sendiri (Indonesia). Apalagi di dusun mereka sudah ada penempatan pos Satuan Tugas Pengamanan RI-PNG,”Kalau kami merasa sakit-sakit kami minta obat kepada mereka (Satgas)” ungkap Railly.

Railly berharap pemerintah bisa memperhatikan keberadaan mereka terutama menyangkut tempat tinggal, “Kami mohon, kalau bisa pemerintah bantu kami rumah”, pintanya.

Sumber : Koran Cenderawasih Pos Hal 1 dan 4 (Media Lain)

Leave a Reply

*

Top