You are here
Home > Berita > Yonif 410/Alugoro Serbu Kp. Ubiau dan Kp. Sawanawa

Yonif 410/Alugoro Serbu Kp. Ubiau dan Kp. Sawanawa

Keerom – Satgas Pamtas Yonif 410/Alugoro mengadakan Serbuan Teritorial dengan kegiatan pengobatan masal bekerjasama dengan Dinas Kesehatan. Pada kegiatan kali ini dipimpin langsung oleh Wadansatgas Mayor Inf Acuk Adriyanto.

Lokasi kegiatan Serbuan Teritorial ini merupakan sebuah kampung yang sangat terpencil dan jauh dari kota, untuk bisa menuju ke sana harus melewati medan berupa deretan perbukitan menyusuri jalan yang diperkeras serta jalan tanah. Apabila musim penghujan tiba maka jalanan menjadi becek dan berlumpur sehingga sangat sulit dilalui oleh kendaraan. Kampung tersebut adalah Kampung Ubiau dan Kampung Sawanawa yang masuk dalam kawasan Distrik Arso, Kabupaten Keerom, Senin (24/07).

Selain kegiatan pengobatan gratis, dari Satgas juga menyerahkan bantuan kepada anak sekolah di kampung ini berupa buku pelajaran dan alat tulis lainnya, serta bingkisan yang berisi minuman, susu dan makanan penambah gizi. Kegiatan ini selain bertujuan untuk memperingati Hari Anak Nasional juga di harapkan mampu membantu Pemda Kab. Keerom dalam ikut mencerdaskan dan menyehatkan masyarakat.

Pada tempat dan waktu yang sama, di SD Santo Petrus Ubiau juga dilaksanakan kegiatan mengajar yang pimpin oleh Serda Ardi. Para siswa-siswi SD ini mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan ceria dan semangat karena ini merupakan pengalaman yang pertama di ajar oleh seorang Guru dari TNI yang berpakaian seragam lengkap. Keceriaan anak-anak terlihat dari raut-raut wajah mereka yang nampak berseri-seri, juga pada saat sesi tanya jawab banyak anak-anak terlihat sangat akrif.

Baca juga :  Ketua BNN Wilayah Papua Berkunjung ke Kodam XVII/Cenderawasih

Kepala SD Santo Petrus Ubiau Ibu Axamina Lunsru, A.Md, Pd., menyampaikan bahwa selama menjadi guru disini kegiatan seperti ini baru yang pertama kali, karena Satgas sebelumnya belum pernah ada yang berkunjung kesini.

“Di SD ini jumlah murid ada 72 orang, sedangkan guru cuma ada 3. Dengan keadaan seperti ini sangat menyulitkan untuk proses belajar mengajar berjalan dengan normal. Para guru disini tinggalnya di kota Arso, tiap hari pulang pergi harus naik ojek dengan ongkos Rp 100.000,- sedangkan gaji yang diterima sangat minim”, terang Ibu Axamina.

“Lokasi sekolahan yang jauh dari kota dan pada saat musim hujan kondisi jalanan tanah menjadi becek sehingga sulit dilewati, ditambah lagi dengan belum adanya sarana penerangan listrik, ini menjadi kesulitan lain yang harus dihadapi oleh para guru disini”, tambahnya. (Prd/Cen)

Leave a Reply

*

Top